SELAMAT DATANG

Saturday, 23 May 2015

TEORI PEMASARAN


 TEORI PEMASARAN

Pengertian Pemasaran

Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukan pertukaran suatu barang atau jasa dengan pihak lain, misalkan saja seorang tenaga kerja mempertukarkan tenaganya dengan uang/penghasilan dan kemudian menggunakan penghasilan tersebut untuk membeli barang atau jasa yang diinginkan. Suatu perusahaan mempertukarkan barang dan jasa dengan pendapatan kemudian menggunakan pendapatan itu untuk membeli bahan baku, mesin atau alat produksi lainnya.

Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya yaitu untuk berkembang dan memperoleh keuntungan, perusahaan harus melakukan salah satu fungsi pokoknya yaitu pemasaran.

        Pemasaran adalah suatu system keseluruhan dari kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan, baik kepada pemebeli yang ada maupun pembeli potensial.

—  Pengertian Pemasaran Menurut H. Nystrom

Pemasaran merupakan suatu kegiatan penyaluran barang atau jasa dari tangan produsen ke tangan konsumen.


—  Pengertian Pemasaran Menurut Philip dan Duncan

Pemasaran yaitu sesuatu yang meliputi semua langkah yang dipakai atau dibutuhkan untuk menempatkan barang yang bersifat tangible ke tangan konsumen.


—  Pengertian Pemasaran Menurut Asosiasi Pemasaran Amerika Serikat / American   Merketing Association

Pemasaran adalah pelaksanaan kegiatan usaha pedagangan yang diarahkan pada aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen.


—  Pengertian Pemasaran Menurut Wilkipedia

        Pemasaran adalah sebuah proses dalam memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia. Jadi, segala kegiatan dalam hubungannya dalam pemuasan kebutuhan dan keinginan manusia merupakan bagian dari konsep pemasaran.


Pengertian manajemen pemasaran

        Manajemen Pemasaran : Analisis, perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian atas program yang dirancang untuk menciptakan, membentuk, mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran  (Target Buyer) dengan maksud untuk mencapai tujuan-tujuan organisasinya.

Jadi, manajemen pemasaran berusaha untuk mempengaruhi tingkat pemilihan waktu dan sifat permintaan sedemikian rupa sehingga membantu organisasi dalam mencapai tujuan. Singkatnya, manajemen pemasaran adalah manajemen permintaan (Demand Management).

Dapat dikatakan juga bahwa pemasaran terdiri atas serangkaian prinsip untuk memilih pasar sasaran (Target Market), mengevaluasi kebutuhan konsumen, mengembangkan barang dan jasa pemuas keinginan, member nilai pada konsumen dan laba bagi perusahaan. Maka orientasi pemasaran yang seksama akan dapat memajukan perusahaan. Ada sementara perusahaan yang sukses karena system pelayanannya terhadap konsumen cepat dan memuaskan ; ada pula kesuksesan disebabkan karena nisa memberikan nasehat yang baik. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila para ahli hokum, politisi, konsultan rumah sakit dan pekerja di bidang lain juga menerapkan rencana-rencana pemasaran.


Tujuan sistem pemasaran :

ž  Memaksimumkan konsumsi

ž  Memaksimumkan utilitas (kepuasan) konsumsi

ž  Memaksimumkan pilihan

ž  Memaksimumkan mutu hidup

ž  Kualitas, kuantitas, ketersediaan, harga, lingkungan


 DASAR-DASAR PEMASARAN

Efisiensi pemasaran

seberapa besar pengorbanan yang harus dikeluarkan dalam kegiatan pemasaran menunjang hasil yang bisa didapatkan dari kegiatan pemasaran tersebut.

Efisiensi pemasaran dapat dicari dengan menghitung  rasio “keluaran-masukan” dalam kegiatan pemasaran yang dilakukan. Semakin tinggi nilai rasio keluaran-masukan, maka pemasaran yang dilakukan semakin efisien.


Biaya Pemasaran

Biaya pemasaran menunjukkan bagian dari pembayaran konsumen yang diperlukan untuk menutup biaya yang dikeluarkan dalam proses pemasaran.

ž  Biaya transportasi

ž  Biaya pengemasan

ž  Biaya penyimpanan/ penggudangan

ž  Biaya pemesanan

ž  Biaya merek dagang

ž  Pajak

ž  Biaya resiko kerusakan


Tahap Orientasi Produksi

—  Perencanaan perusahaan dibuat oleh eksekutif produksi dan departemen tehnik.  Peran dari bidang atau departemen penjualan hanyalah sekadar menjual produk yang dihasilkan oleh bagian produksi dan keuangan. Tahap ini sering disebut sebagai tahap “perangkap tikus” yang lebih baik. Asumsi yang mendasari ialah asal produk bermutu baik dan harga yang wajar, produk pasti laku dijual. Tidak dibutuhkan upaya pemasaran untuk membujuk orang membeli produk yang ditawarkan.

—  Dalam tahap ini, perusahaan belum mengakui departemen pemasaran. Yang ada adalah departemen penjualan yang dipimpin oleh manajer penjualan yang bertugas mengelola tenaga penjualan.


Tahap Orientasi Penjualan

—  Pada tahap penjualan ini, terjadi dua perubahan penting dalam pengelolaan organisasi bisnis. Pertama, semua aktivitas pemasaran seperti periklanan dan riset pemasaran biasanya dipimpin oleh manajer penjualan atau wakil direktur bidang penjualan. Kedua, kegiatan seperti pelatihan dan analisis penjualan yang sebelumnya ditangani oleh departemen lain sekarang dikelola oleh departemen penjualan.


Tahap Orientasi Pemasaran

—  Pada tahap ketiga ini, perusahaan-perusahaan menganut konsep manajemen pemasaran yang terkoordinir dan diarahkan untuk mencapai tujuan ganda : orientasi konsumen dan volume penjualan yang menguntungkan. Perhatian ditujukan ke pemasaran, bukan ke penjualan. Eksekutif puncaknya disebut sebagai manajer pemasaran atau wakil direktur pemasaran. Dalam tahap ini beberapa aktivitas yang biasanya dikelola oleh eksekutif  departemen lain, kini menjadi tanggung-jawab manajer pemasaran. Misalnya aktivitas pengendalian sediaan, pergudangan dan aspek-aspek perencanaan produk. Para manajer pemasaran dilibatkan sejak tahap awal dari daur produksi. Dengan pelibatan sejak awal ini diharapkan mereka dapat mengintegrasikan pemasaran ke dalam setiap tahap dari aktivitas perusahaan. Pemasaran harus mempengaruhi semua kebijakan perusahaan, baik yang jangka pendek maupun yang jangka panjang.


Tahap Orientasi Manusia dan Tanggung-jawab Sosial

Di sini eksekutif pemasaran harus bertindak berdasarkan sikap dan tanggung-jawab sosial jika mereka ingin berhasil, atau selamat. Tekanan-tekanan dari luar – tekanan-tekanan dari luar – ketidakpuasan konsumen, perhatian pada masalah-maslah lingkungan, dan kekuatan-kekuatan politik yang legal – mempengaruhi program pemasaran perusahaan-perusahaan.


Utilitas

Utilitas adalah hubungan antara keinginan konsumen dengan nilai atau kegunaan barang/jasa yang dijual.

—  Utilitas bentuk

—  Utilitas tempat

—  Utilitas waktu

—  Utility kepemilikan


Fungsi Pemasaran

—  Fungsi Pertukaran

—  Fungsi Distribusi Fisik

—  Fungsi Perantara


Konsep Pemasaran

Konsep pemasaran adalah konsep dimana perusahaan atau produsen harus memberikan produk atau jasa ataupun pelayanan yang diinginkan pelanggan yang ada ataupun pelanggan potensial untuk mendatangkan keuntungan.

—  Konsep Pemasaran Berwawasan Produksi

—  Konsep Pemasaran Berwawasan Produk

—  Konsep Pemasaran Berwawasan Menjual

—  Konsep Pemasaran Berwawasan Pemasaran

—  Konsep Pemasaran Berwawasan Bermasyarakat


Segmentasi Pasar

—  Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi-bagi pasar yang bersifat heterogen dari suatu produk ke dalam satuan-satuan pasar (segmen pasar) yang bersifat homogen. Dengan kata lain, segmentasi pasar adalah kegiatan membagi pasar menjadi kelompok pembeli yang terbedakan dengan kebutuhan, karakteristik, atau tingkah laku berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran terpisah.


Strategi Pemasaran

pada hakikatnya merupakan serangkaian upaya yang ditempuh dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

—  Marketing mix

—  CRM

—  Nilai pelanggan

—  Customer dependency

Bauran Pemasaran (marketing mix)




1. Definisi Bauran Pemasaran

Bauran pemasaran merupakan seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran dalam memenuhi target pasarnya.


2. Empat variabel bauran pemasaran

Bauran pemasaran memiliki empat variabel yang dikenal dengan istilah “4 P” (product, price, promotion, and place) yang saling berkaitan satu sama lain. penjelasan mengenai variabel-variabel bauran pemasaran adalah sebagai berikut:


a) Produk (product)

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk diperhatikan, diperoleh digunakan atau dikonsumsi sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.


b) Harga (price)

Harga merupakan jumlah uang yang harus dibayarkan oleh konsumen untuk mendapatkan suatu produk. Harga diukur dengan nilai yang dirasakan dari produk yang ditawarkan jika tidak maka konsumen akan membeli produk lain dengan kualitas yang sama dari penjualan saingannya. Harga adalah satu-satunya alat bauran pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai sasaran pemasarannya. Keputusan harga harus dikoordinasikan dengan rancangan produk, distribusi dan promosi yang membentuk program pemasaran yang konsisten dan efektif.


c) Tempat (place)

Tempat termasuk aktivitas perusahaan untuk membuat produk tersedia bagi konsumen sasaran. Keputusan mengenai tempat sangat penting agar konsumen dapat memperoleh produk yang dibutuhkan tepat pada saat dibutuhkan.


d) Promosi (promotion)

Promosi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan manfaat dari produk atau jasa dan meyakinkan konsumen sasaran tentang produk yang mereka hasilkan.


Variabel-variabel bauran pemasaran tersebut dapat dipakai sebagai dasar untuk menetapkan suatu strategi dalam usaha untuk mendapatkan posisi yang kuat di pasar. Tetapi dalam pelaksanannya, bauran pemasaran tersebut harus dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada atau bersifat fleksibel.


Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bauran Promosi

Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan  yaitu :

1. Jenis pasar produk.

Tingkat pemanfaatan alat promosi bervariasi antara pasar konsumen dan pasar industri. Pada perusahaan barang konsumsi akan lebih memusatkan pada promosi penjualan, periklanan, penjualan perorangan dan hubungan masyarakat, sesuai dengan urutannya. Sedangkan perusahaan industri akan lebih memusatkan pada penjualan perorangan, promosi penjualan, periklanan dan hubungan masyarakat.


2. Strategi dorong lawan strategi tarik.

Bauran promosi sangat dipengaruhi oleh apakah perusahaan memilih strategi dorong atau strategi menarik untuk menciptakan penjualan. Pada strategi dorong, penjualan perorangan dan promosi penjualan yang lebih diperhatikan sedang pada strategi tarik, periklanan dan promosi kepada konsumen akan lebih berperan.


3. Kesiapan tahap pembeli.

Alat-alat promosi memiliki efektivitas biaya yang berbeda pada berbagai tingkat kesiapan pembeli. Periklanan dan publisitas memiliki peranan dalam tahap membangun kesadaran. Pengertian pelanggan akan dipengaruhui oleh penjualan perorangan. Sedangkan pemesanan dan pemesanan kembali akan dipengaruhi oleh penjualan perorangan dan promosi penjualan. Jadi pada tahap-tahap awal dari proses keputusan pembeli, periklanan dan publisitas akan lebih berperan dan pada tahap-tahap akhir, penjualan perorangan dan promosi penjualan lebih efektif.


4. Tahap-tahap dalam siklus kehidupan produk.

a. Tahap perkenalan.

Pada tahap ini, periklanan dan publisitas memiliki tingkat efketivitas biaya tertinggi, penjualan perorangan untuk memperoleh cakupan distribusi dan promosi penjualan untuk mendorong konsumen agar mencoba produk.


b. Tahap pertumbuhan.

Pada tahap ini, semua alat promosi dapat dikurangi peranannya karena permintaan dapat bergerak melalui cerita dari mulut ke mulut.


c. Tahap kemampuan.

Pada tahap ini, promosi penjualan, periklanan dan penjualan perorangan makin penting, sesuai dengan urutan tersebut.


d. Tahap penurunan.

Pada tahap ini, promosi penjualan tetap kuat, periklanan dan publisitas dikurangi dan penjualan produk hanya perlu memberikan sedikit perhatian pada produk.


Customer Relationship Management (CRM)

CRM adalah suatu proses dalam mendapatkan, mempertahankan dan meningkatkan pelanggan yang menguntungkan. CRM bertujuan untuk menciptakan nilai pelanggan, sehingga pelanggan puas, dan memaksimalkan keuntungan bagi perusahaan, memperoleh keunggulan bersaing, memperhatikan mutu produk agar dapat memberikan kepuasan prima bagi pelanggan.

—  Continuity Marketing

—  One to one marketing

—  Partnering atau co-marketing


Nilai Pelanggan

Manfaat yang diperoleh konsumen berasal dari:

—  Produk yang dibeli

—  Layanan yang diterima

—  Karyawan yang membarikan layanan dan citra atau nama baik

—  Rasa bangga terhadap perusahaan

—  Merek, Dll.

Korbanan adalah berupa pengorbanan yang dikeluarkan oleh konsumen yaitu:

—  Moneter  berupa nilai uang yang dibayarkan

—  Waktu yang dikorbankan untuk memperoleh produk tersebut

—  Enerji merupakan rasa capek dalam mendapatkan produk tersebut

—  Psikhis yaitu pengorbanan dalam kejiwaan

—  Kenyamanan

—  Keamanan

—  Waswas, Dll.


Customer Dependency

Elemen ketrgantungan konsumen terhadap produsen disebabkan oleh:

—  Akses lokasi karena sangat strategis

—  Kemampuan pegawai mengenal pelanggan

—  Inovasi produk bermutu atau jasa memuaskan


Turbo Marketing

Sedari dulu perusahaan mengungguli saingan melalui:

—  Perang harga

—  Perang dessain

—  Perang kualitas

—  Perusahaan menerapkan strategi turbo marketing, dengan berusaha menekan waktu sehingga perusahaan lebih unggul dalam hal:

◦       Proses produksi lebih cepat sehingga konsumen tidak menunggu lama.

◦       Pelayanan lebih cepat sehingga konsumen lebih cepat melihat hasilnya.


Kebijaksanaan Harga

Kebijaksanaan harga adalah keputusan mengenai harga-harga yang akan diikuti untuk jangka waktu tertentu. Kebijaksanaan harga dapat ditentukan oleh beberapa lembaga seperti:

◦       Produsen

◦       Grosir

◦       Retailer

◦       Pemerintah

—  Price Discount

—  Promotional Discount

—  A loss leader

—  Penetapan harga barang baru

◦       Price skimming

Penetration pricing

◦       Geographic pricing


Promotion atau Komunikasi Bisnis

Promosi didefinisikan sebagai komunikasi yang memberi informasi kepada calon konsumen mengenai suatu produk, yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dan mendorong mereka untuk membeli. Ada beberapa elemen promosi yang dikenal sebagai promotional mix, yaitu:

—  Advertising

—  Personal selling

—  Public relation

—  Sales promotion


Kesimpulan :

—  Pemasaran adalah sebuah proses dalam memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia. Jadi, segala kegiatan dalam hubungannya dalam pemuasan kebutuhan dan keinginan manusia merupakan bagian dari konsep pemasaran.

—  Tujuan kegiatan pemasaran adalah mempengaruhi pembeli agar bersedia membeli harang dan jasa perusahaan pada saat mereka membutuhkan. Agar tujuan tersebut tercapai maka setiap perusahaan harus memahami tentang perilaku konsumen. Setiap manajer pemasaran harus memahami tingkah laku konsumen sehingga perusahaan dapat mengembangkan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan produk secara lebih baik.

—  Dasar-dasar pemasaran yang harus kita kuasai meliputi :

—  Pemasaran

—  Konsep Pemasaran

—  Strategi Pemasaran

—  Turbo Marketing

—  Kebijaksanaan harga

—  Promotion atau Komunikasi Bisnis


—  Oleh karena itu dengan adanya konsep pemasaran yang baik dan benar, diharapkan dapat diaplikasikan ke dalam kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi yang sebenarnya. Sehingga kegiatan perusahaan berjalan dengan baik dan semakin baik lagi.


Pengertian Uang


Pengertian Uang

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2008:1766) uang diartikan : (1) Alat tukar atau standar pengukur nilai (kesatuan hitungan) yang sah, dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara berupa kertas, emas, perak, atau logam lain yang dicetak dengan bentuk dan gambar tertentu; (2) harta; kekayaan.

Keuangan

Keuangan merupakan ilmu dan seni dalam mengelola uang yang mempengaruhi kehidupan setiap orang dan setiap organisasi. Keuangan berhubungan dengan proses, lembaga, pasar, dan instrumen yang terlibat dalam transfer uang diantara individu maupun antara bisnis dan pemerintah.

Definisi Keuangan

Definisi keuangan bagi perusahaan adalah dimana kita bisa mengkontrol semua pengeluaran dan tenaga kerja, jangan pernah kita mengeluarkan untuk kebutuhan baik barang maupun tenaga kerja yang tidak perlu. dengan kata lain efesiensi pengeluaran. mungkin dengan begitu bisa sedikit menambah keuntungan ataupun pengeluaran yang begitu banyak.

(Pemahaman Q.S. Al-A’raf : 31 dan Q.S. An-Nahl : 66 serta Korelasinya dengan Ekonomi Kontemporer)


KONSUMSI

 (Pemahaman Q.S. Al-A’raf : 31 dan Q.S. An-Nahl : 66 serta

Korelasinya dengan Ekonomi Kontemporer)



Makalah

Dibuat untuk Memenuhi Tugas Ilmu Al-Qur’an



Oleh:

                    NUR HIDAYATI                        NIM: 90400114152

                    AYU VERLIANA                       NIM: 90400114153

                    ADE IYHAN SOLIKHA            NIM: 90400114154

                    SULFA                                         NIM: 90400114155




FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2014

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik. Tidak lupa pula shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda kita yang tercinta yakni Nabi Muhammad SAW. Dan kami juga berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah berkontribusi membantu kami dalam penyelesaian makalah ini yang berjudul “Konsumsi”.

Makalah ini dibuat untuk memperdalam pemahaman tentang Q.S. Al-A’raf ayat 31 dan Q.S. An-Nahl ayat 66 serta hubungannya dengan ekonomi kontemporer. Mudah-mudahan makalah yang kami susun dapat bermanfaat.

Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang tedapat di dalam makalah ini. Oleh karena itu penyusun membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun.

Kami ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.


Tim Penyusun





DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................          i

Kata Pengantar ............................................................................................          ii

Daftar Isi .....................................................................................................          iii

BAB I  PENDAHULUAN ........................................................................          1

A.    Latar Belakang ................................................................................          1

B.     Tujuan .............................................................................................          2

C.     Rumusan Masalah ...........................................................................          2

BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................          3

A.    Pengertian Konsumsi .....................................................................          3

B.     Tafsir Q.S. Al-A’raf ayat 31 ..........................................................          3

C.     Tafsir Q.S. An-Nahl ayat 66 ..........................................................          7

D.    Hubungan ayat dengan ekonomi kontemporer ..............................          8

BAB III PENUTUP ...................................................................................          10

A.    Kesimpulan ....................................................................................          10

B.     Saran ..............................................................................................          10

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................          11








BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Islam berasal dari kata As-Silmu yang berarti damai. “Dan jika mereka condong kepada damai, maka condonglah kepadanya dan bertakwalah kepada Allah SWT. sesungguhnya Dialah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. Al-Anfal:61). Islam juga berasal dari kata Aslama yang berarti menyerahkan diri atau pasrah. “Dan siapakah yang lebih baikagamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya”. (Q.S An-Nisa:125). Islam selalu mengajarkan kepada kita manusia untuk selalu melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Allah SWT. dan menjauhi larangan-Nya. Maka dari itu diturunkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup agar kita manusia dapat hidup bahagia dunia maupun di akhirat.

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diwahyukan atau diturunkan oleh Allah kepada Nabi kita yang tercinta Nabi Muhammad SAW. Nabi yang membawa kita dari dunia gelap gulita menuju dunia yang terang-benderang sebagai Nabi dan Rasul terakhir untuk menjadi sumber pedoman hidup seluruh manusia hingga akhir zaman melalui perantara malaikat Jibril. Secara harfiah Al-Qur’an berarti bacaan. Namun, walau terdengar merujuk ke sebuah buku atau kitab, umat Islam lebih merujuk Al-Qur’an lebih pada kata-kata atau kalimat di dalamnya, bukan pada bentuk fisiknya sebagai hasil cetakan.. Al-Qur’an diturunkan secara bertahap. Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali aturan-aturan, hukum-hukum yang mengatur hidup manusia agar tidak sampai menuju jalan yang sesat. Al-Qur’an merupakan bagian dari hidup yang tidak terpisahkan dengan hadis dari Rasulullah SAW. Termasuk dalam perilaku konsumsi, kita harus tetap berpedoman pada ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadis. Maka dari itu, dalam menjalani hidup ini kita harus berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Al-Hadis.

Konsumsi merupakan salah satu unsur pokok dalam perilaku ekonomi, selain kegiatan produksi dan distribusi. Dalam ilmu Ekonomi Islam, telah diatur beberapa aturan tentang bagaimana seharusnya kita sebagai makhluk ciptaan  Allah SWT mengkonsumsi sesuatu. Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak aturan-aturan tentang bagaimana cara konsumsi yang baik yang sesuai dengan syariat Islam. Kebanyakan kaum muslim dalam berperilaku konsumtif cenderung mengikuti hawa nafsu, tidak memikirkan efek negative dari perilaku tersebut. Maka dari itu, kita kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadis.

B.    TUJUAN

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk pemenuhan tugas pada mata kuliah Ilmu A-Qur’an tentang hubungan ayat dan kolerasinya dengan ekonomi kontemporer.

C.    RUMUSAN MASALAH

Adapun masalah yang ingin diketahui dan dikaji di dalam makalah ini yaitu :

1.      Apa pengertian dari konsumsi?

2.      Apa tafsir ayat Q.S Al-A’raf : 31 dan Q.S. An-Nahl ayat : 66?

3.      Apa hubungan kolerasi antara ayat Q.S Al-A’raf : 31 dan Q.S. An-Nahl ayat : 66 dengan ekonomi kontemporer?




BAB II

PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN KONSUMSI

Konsumsi berasal dari bahasa Belanda yaitu Consumptie yang berarti suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, barang maupun jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan. Sedangkan, individu atau kelompok pengguna barang dan jasa disebut konsumen. Konsumsi merupakan kegiatan yang baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali, maka disebut pengecer atau distributor. Bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena itu produsen sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.

B.    TAFSIR Q.S. AL-A’RAF  : 31

Pada zaman modern seperti saat ini, yang namanya kebutuhan sandang dan pangan sangat penting seiring dengan kesibukan dan banyak nya kegiatan seseorang. Agar kita sebagai manusia, mampu beribadah dan bekerja dengan maksimal, memenuhi kebutuhan sangat penting. Apalagi masalah mengenai pakaian, makanan, dan minuman. Sebagai seorang muslim tentunya harus mengikuti aturan berpakaian serta makan dan minum yang baik  sesuai dengan apa yang telah diatur dalam Al-Qur’an seperti pada surah Al-A’raf ayat 31.


يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ




Artinya :

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.


Dari ayat tersebut ialah Allah menyuruh kita memakai pakaian yang dapat menutup aurat, sopan, bersih dan baik serta indah yang dapat menambah keindahan dalam beribadah kepada Allah. Islam tidak melarang kita untuk berpakaian indah. Namun, tetap ada batas-batasan bagi umat muslim dalam berpakaian yaitu :

1.      Menutup aurat. Bagi perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Sedangkan, bagi laki-laki adalah dari perut sampai lutut.

2.      Berpakaian yang bersih dan rapih.

3.      Tidak menyerupai pakaian perempuan bagi laki-laki begitupun sebaliknya.

4.      Tidak ketat dan transparan.

5.      Tidak berlebih-lebihan dalam berhias.

6.      Larangan memakai emas dan sutera bagi laki-laki.

7.      Larangan menyerupai orang kafir.

8.      Tidak menimbulkan riak (sombong).

Adapun fungsi pakaian yaitu :

1.      Sebagai penutup aurat. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya : “Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutup auratmu (yuwa - ri saua-ti-kum) dan untuk perhiasan (ri-syan) bagimu. Tetapi pakaian taqwa (liba suttaqwa-), itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.” (Q.S. al-A„ra-f : 26)

2.      Sebagai indentitas diri. Pakaian yang dipakai diharapkan menunjukkan bahwa dia adalah seorang muslim.

3.      Sebagai perhiasan. Pakaian juga berfungsi sebagai perhiasan, apabila kita berpakaian yang rapi, sopan, dan bersih.

4.      Sebagai pelindung diri. Pakaian juga berfungsi sebagai pelindung diri dari sengatan matahari. "..dan Dia (ALLAH) telah jadikan bagi kamu pakaian itu sebagai pelindung diri kamu daripada (cuaca) panas..(Q.S. An-Nahl:81)

Etika dalam berpakaian yaitu :

1.      Membaca doa.

2.      Disunnahkan untuk mendahulukan anggota tubuh yang bagian kanan dalam mengenakan pakaian.

3.      Memakai pakaian yang rapi, sopan, bersih sesuai dengan tempat.

4.      Disunnahkan melepas pakaian dari sebelah kiri.

Rasulullah SAW juga selalu menjaga kebersihan badan sesuai sabdanya yaitu : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Kewajiban bagi setiap Muslim untuk mandi satu harí dalam satu minggu, dengan membasahi kepala dan tubuhnya“. Juga menyuruh kita untuk menjaga kebersihan mulut. Sesuai sabda Rasulullah SAW :  “Seandainya tidak akan memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat“. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam ayat ini juga Allah mengatur perkara tentang makan dan minum yaitu jangan melampaui batas makan dan minum yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang di halalkan. Tujuan makanan dalam islam yaitu untuk mempertahankan kehidupan dan membuat kondisi tubuh tetap sehat untuk bekerja, belajar, dan beribadah. Kesehatan adalah nikmat dari Allah SWT. yang tak terkira, contoh paling baik dalam menjaga kesehatan adalah contoh dari Rasullah SAW.   Contoh dari beliau yaitu untuk jangan terlalu banyak makan dan minum. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW : “Tiada tempat paling buruk selain perut yang di isi oleh manusia. Cukuplah bagi manusia beberapa suapan sekedar untuk menegakkan tulang iganya. Jika dia mengisi perutnya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk pernapasannya (udara).”

Adapun batasan dalam makan dan minum yaitu: Batas dalam lapar, haus, kenyang. Kita sebagai manusia makan ketika merasa lapar dan sebaiknya berhenti makan dengan tidak terlalu kenyang, dan minum untuk sekedar melepas dahaga, walaupun nafsu makan atau minum masih ada. Dalam batasan ekonomi. Kita sebagai manusia sebaiknya membeli makanan secukupnya disesuaikan dengan ekonomi keuangan masing-masing. Jangan berlebihan dalam berbelanja karena akan mendatangkan kerugian apabila pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Batas Syara’, Allah telah mengharamkan beberapa jenis makanan dan juga jenis minuman. Memilih mana yang halal dan mana yang haram merupakan kewajiban umat islam agar tidak melanggar batas-batas syara’ yang dilarang Allah.

Tentang orang yang suka makanan berlebihan, Allah SWT menggambarkan mereka seperti cara makan hewan. Mereka berlebih-lebihan sampai sekenyang-kenyangnya, tidak beraturan asal mata terjaga perutnyalah yang dipikirkannya. Berbagai bentuk makanan dimasukkan kedalam perutnya, entah yang halal maupun haram. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Muhammad ayat 12, yang artinya “ mereka makan laksana hewan makan dan api nerakalah tempat kediaman mereka “.

Sebab turun nya surah Al-A’raf ayat 31 yaitu diterangkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan olwh Abdun bin Hamid dari Said bin Jubair, bahwa orang-orang pada zaman jahiliah tawaf sekeliling ka’bah dalam keaadan telanjang bulat. Mereka berkata : “ Kami tidak akan tawaf dengan memakai pakaian yang telah kami pakai untuk berbuat dosa.” Lalu datanglah seorang perempuan untuk mengerjakan tawaf dan pakaiannya dilepaskannya sama sekali sedang dalam keaadaan bertelanjang dan hanya tangan saja yang menutupi kemaluannya, karena itu turunlah ayat ini. Dari riwayat lain menyebutkan bahwa ayat ini turun ketika beberapa sahabat Nabi bermaksud meniru kaum Quraisy yang sangat menggebu-gebu semangat beragamanya hingga enggan thawaf bila tidak memakai pakaian yang baru yang belum pernah dipakai berbuat dosa.  Pada masa Jahiliah, manusia yang mengerjakan haji hanya makan makanan yang mengenyangkan, tidak makan yang sedap-sedap dan bergizi yang diperlukan oleh tubuh agar lebih kuat dalam beribadah.

C.    TAFSIR SURAH AN-NAHL AYAT 66

Makanan dan minuman yang sehat, banyak macam dan beragam jenisnya. Contoh salah satunya yaitu susu. Susu merupakan minuman sehat yang banyak mengandung vitamin dan mineral, kalsium, magnesium dan protein tinggi yang baik untuk tubuh. Apalagi bagi anak-anak di usia tumbuh membutuhkan nutrisi dan gizi yang terkandung di susu. Susu juga merupakan salah satu mukjizat Allah SWT. yang terdapat di dalam tubuh hewan ternak. Jauh sebelum ilmu pengetahuan modern muncul, Al-Qur’an sudah memberi penjelasan mengenai terbentuknya susu pada surah An-Nahl ayat 66 :

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ (66)

Artinya:

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (16: 66)

Pertama-tama susu terbentuk setelah binatang ternak mengunyah makanannya. Makanan tersebut akan sampai di lambung dan diolah nutrisinya. Sesudahnya makanan yang tersisa dan tidak bernutrisi akan disalurkan ke saluran pembuangan, sementara nutrisi akan disalurkan kedalam aliran darah. Terakhir, darah yang mengandung nutrisi akan melewati kantung proses kedua.  Dengan demikian, dipahami bahwa pada proses pertama air susu terproduksi dari proses yang ada diantara darah dan saluran pembuangan.

Dalam ayat ini hewan-hewan yang diciptakan oleh Allah SWT. juga untuk pelajaran bagi manusia sekaligus sumber kebutuhan yang dan dapat memberikan kesehatan, seperti susu yang di hasilkan oleh hewan ternak bahkan yang sangat baik untuk kesehatan dan juga obat. Padahal susu itu dihasilkan dari dalam perut hewan ternak antara kotoran dan darah. Sungguh Allah Maha Besar atas segala yang diciptakan-Nya.

Maha Kuasa Allah, Maha Luas Rahmat-Nya terhadap para hamba-Nya. Dari air susu hewan ternaklah manusia mendapatkan minuman yang lezat, mudah dicerna dan bermanfaat bagi kesehatan. Maha Kuasanya Allah menciptakan sesuatu yang bisa langsung dikonsumsi dengan memisahkan  susu yang bersih itu dari darah dan kotoran hewan sehingga mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.

D.    HUBUNGAN AYAT DENGAN EKONOMI KONTEMPORER

Konsumsi tidak lepas hubungannya dengan ekonomi. Sebelum kita mengkonsumsi pakaian serta minuman ataupun makanan, kita pasti membeli pakaian serta minuman dan makanan yang merupakan salah satu kegiatan ekonomi (kegiatan jual beli) yang pastinya selalu kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sesuai dengan Surah Al-A’raf ayat 31 bahwa sudah diatur manusia tidak boleh berlebih-lebihan dalam hal makan dan minum serta berpakaian. Tetapi dalam keadaan nyata sekarang ini. Masih banyak manusia yang tetap melampaui batas. Karena beragam macam makanan dan minuman yang ditawarkan di pasaran. Banyak diantara kita suka ingin mencoba makanan itu, makanan ini. Sehingga menyebabkan manusia membeli makanan berlebih lantaran mengikuti nafsunya, bukan karena ingin membeli makanan yang cukup untuk kebutuhannya. Mengenakan pakaian yang berlebih-lebihan karena ingin dipuji, dan bahkan sudah keluar dari ajaran Islam tentang bagaimana mengenakan pakaian yang sesuai dengan agama Islam. Kita juga harus dapat dengan bijak memilih antara keinginan dan kebutuhan agar tidak timbul sikap dan perilaku yang berlebih-lebihan.

Dalam Surah An-Nahl ayat 66 dijelaskan bahwa Allah menciptakan minuman yang dapat langsung diminum oleh manusia yaitu susu. Susu karena sangat dibutuhkan oleh banyak orang, sehingga susu dari hewan ternak oleh peternak dapat diperjualbelikan untuk memenuhi kebutuhannya yang lain dan menopang perekonomiannya. Susu juga dapat diolah bersama dengan bahan lainnya sehingga meningkatkan harga jualnya di pasaran. Jadi, susu merupakan salah satu bahan yang penting di dalam perekonomian. Sungguh Maha Kuasa dan Maha Sempurna Allah dengan segala ciptaanNya.













BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

1.      Konsumsi adalah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, barang maupun jasa untuk memenuhi kebutuhan sandang maupun pangan di kehidupan sehari-hari.

2.      Dalam Q.S. Al-A’raf ayat 31, perbuatan yang berlebih-lebihan termasuk makan dan minum serta berpakaian yang melewati batas akan merugikan dan tidak disukai oleh Allah, karena setiap sesuatu yang tidak disukai oleh Allah SWT. akan mendatangkan dampak yang negative bagi manusia itu sendiri. Dalam Q.S. An-Nahl ayat 66, Allah SWT. menciptakan susu yang bersih dari perut hewan ternak yang keluar diantara darah dan kotoran dan bermanfaat bagi manusia yang merupakan tanda-tanda kesempurnaan Allah serta sifat-sifatNya Yang Maha Sempurna.

3.      Hubungan Q.S. Al-A’raf ayat 31 adalah mengatur gaya hidup yang berkaitan dengan bidang ekonomi yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Hubungan Q.S. An-Nahl ayat 66 adalah penciptaan susu oleh Allah bermanfaat dalam bidang ekonomi untuk memenuhi kebutuhan.

B.    SARAN

Dalam penyelesaian makalah ini, kami tidak lepas dari kesalahan-kesalahan yang mungkin kami tidak sadari. Maka dari itu, kami mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun dari Bapak Dosen.





DAFTAR PUSTAKA

“Konsumsi”. Wikipedia Ensiklopedia Bebas. http://id.wikipedia.org/wiki/konsumsi  ( 23 November 2014)

Kusumawardani, Yunita. “Pola Hidup Sederhana”. Blog Yunita Kusumawardani.  http://yunita-kusumawardani.blogspot.com/2012/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html (26 November 2014)

Fauroni, Lukman. Peran Badan Usaha Dalam Perekonomian Indonesia. http://www.scribd.com/doc/28846387/Artikel-Jurnal-MSI-UII-Tafsir-Ayat-ayat-Konsumsi  (26 November 2014)

Arifil Huda, Dhony. “Tafsir Ayat Konsumsi (bag 4)”. Blog Dhony Arifil Huda. http://berandapagihari.blogspot.com/2013/03/tafsir-ayat-konsumsi-bag-4.html (30 November 2014)

Fikriani, Alivea. “Kandungan Surat Al-A’raf ayat 31”. Blog Alivea Fikriani. http://liviatan2403.blogspot.com/2012/10/kandungan-surat-al-araf-ayat31.html (30 November 2014)

Eka, Dalila. “Alam Semesta Sebagai Tanda Kebesaran Allah SWT.”. Blog Dalila Eka. http://ekakundur.blogspot.com/2012/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_13.html (30 November 2014)

Wahyu, Arung. “Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 65-69”. Blog Arung Wahyu. https://arungwahyu.wordpress.com/2012/11/13/al-quran-surah-an-nahl-ayat-65-69/ (30 November 2014)

Iran Indonesian Radio. “Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 66-69”. Situs Resmi Iran Indonesia Radio. http://indonesian.irib.ir/islam/al-quran/item/84570-tafsir-al-quran-surat-an-nahl-ayat-66-69 ( 31 November 2014)

Islamic Economics Course. “Q.S.Al-A’raf (7) : 31”. Situs Resmi Islamic Economics Course. http://iecourse.blogspot.com/2014/02/qs-al-araf-7-31.html ( 31 November 2014)



KONSUMSI

 (Pemahaman Q.S. Al-A’raf : 31 dan Q.S. An-Nahl : 66 serta

Korelasinya dengan Ekonomi Kontemporer)



Makalah

Dibuat untuk Memenuhi Tugas Ilmu Al-Qur’an



Oleh:

                    NUR HIDAYATI                        NIM: 90400114152

                    AYU VERLIANA                       NIM: 90400114153

                    ADE IYHAN SOLIKHA            NIM: 90400114154

                    SULFA                                         NIM: 90400114155




FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2014

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik. Tidak lupa pula shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda kita yang tercinta yakni Nabi Muhammad SAW. Dan kami juga berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah berkontribusi membantu kami dalam penyelesaian makalah ini yang berjudul “Konsumsi”.

Makalah ini dibuat untuk memperdalam pemahaman tentang Q.S. Al-A’raf ayat 31 dan Q.S. An-Nahl ayat 66 serta hubungannya dengan ekonomi kontemporer. Mudah-mudahan makalah yang kami susun dapat bermanfaat.

Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang tedapat di dalam makalah ini. Oleh karena itu penyusun membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun.

Kami ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.


Tim Penyusun





DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................          i

Kata Pengantar ............................................................................................          ii

Daftar Isi .....................................................................................................          iii

BAB I  PENDAHULUAN ........................................................................          1

A.    Latar Belakang ................................................................................          1

B.     Tujuan .............................................................................................          2

C.     Rumusan Masalah ...........................................................................          2

BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................          3

A.    Pengertian Konsumsi .....................................................................          3

B.     Tafsir Q.S. Al-A’raf ayat 31 ..........................................................          3

C.     Tafsir Q.S. An-Nahl ayat 66 ..........................................................          7

D.    Hubungan ayat dengan ekonomi kontemporer ..............................          8

BAB III PENUTUP ...................................................................................          10

A.    Kesimpulan ....................................................................................          10

B.     Saran ..............................................................................................          10

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................          11








BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Islam berasal dari kata As-Silmu yang berarti damai. “Dan jika mereka condong kepada damai, maka condonglah kepadanya dan bertakwalah kepada Allah SWT. sesungguhnya Dialah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. Al-Anfal:61). Islam juga berasal dari kata Aslama yang berarti menyerahkan diri atau pasrah. “Dan siapakah yang lebih baikagamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya”. (Q.S An-Nisa:125). Islam selalu mengajarkan kepada kita manusia untuk selalu melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Allah SWT. dan menjauhi larangan-Nya. Maka dari itu diturunkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup agar kita manusia dapat hidup bahagia dunia maupun di akhirat.

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diwahyukan atau diturunkan oleh Allah kepada Nabi kita yang tercinta Nabi Muhammad SAW. Nabi yang membawa kita dari dunia gelap gulita menuju dunia yang terang-benderang sebagai Nabi dan Rasul terakhir untuk menjadi sumber pedoman hidup seluruh manusia hingga akhir zaman melalui perantara malaikat Jibril. Secara harfiah Al-Qur’an berarti bacaan. Namun, walau terdengar merujuk ke sebuah buku atau kitab, umat Islam lebih merujuk Al-Qur’an lebih pada kata-kata atau kalimat di dalamnya, bukan pada bentuk fisiknya sebagai hasil cetakan.. Al-Qur’an diturunkan secara bertahap. Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali aturan-aturan, hukum-hukum yang mengatur hidup manusia agar tidak sampai menuju jalan yang sesat. Al-Qur’an merupakan bagian dari hidup yang tidak terpisahkan dengan hadis dari Rasulullah SAW. Termasuk dalam perilaku konsumsi, kita harus tetap berpedoman pada ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadis. Maka dari itu, dalam menjalani hidup ini kita harus berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Al-Hadis.

Konsumsi merupakan salah satu unsur pokok dalam perilaku ekonomi, selain kegiatan produksi dan distribusi. Dalam ilmu Ekonomi Islam, telah diatur beberapa aturan tentang bagaimana seharusnya kita sebagai makhluk ciptaan  Allah SWT mengkonsumsi sesuatu. Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak aturan-aturan tentang bagaimana cara konsumsi yang baik yang sesuai dengan syariat Islam. Kebanyakan kaum muslim dalam berperilaku konsumtif cenderung mengikuti hawa nafsu, tidak memikirkan efek negative dari perilaku tersebut. Maka dari itu, kita kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadis.

B.    TUJUAN

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk pemenuhan tugas pada mata kuliah Ilmu A-Qur’an tentang hubungan ayat dan kolerasinya dengan ekonomi kontemporer.

C.    RUMUSAN MASALAH

Adapun masalah yang ingin diketahui dan dikaji di dalam makalah ini yaitu :

1.      Apa pengertian dari konsumsi?

2.      Apa tafsir ayat Q.S Al-A’raf : 31 dan Q.S. An-Nahl ayat : 66?

3.      Apa hubungan kolerasi antara ayat Q.S Al-A’raf : 31 dan Q.S. An-Nahl ayat : 66 dengan ekonomi kontemporer?




BAB II

PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN KONSUMSI

Konsumsi berasal dari bahasa Belanda yaitu Consumptie yang berarti suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, barang maupun jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan. Sedangkan, individu atau kelompok pengguna barang dan jasa disebut konsumen. Konsumsi merupakan kegiatan yang baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali, maka disebut pengecer atau distributor. Bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena itu produsen sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.

B.    TAFSIR Q.S. AL-A’RAF  : 31

Pada zaman modern seperti saat ini, yang namanya kebutuhan sandang dan pangan sangat penting seiring dengan kesibukan dan banyak nya kegiatan seseorang. Agar kita sebagai manusia, mampu beribadah dan bekerja dengan maksimal, memenuhi kebutuhan sangat penting. Apalagi masalah mengenai pakaian, makanan, dan minuman. Sebagai seorang muslim tentunya harus mengikuti aturan berpakaian serta makan dan minum yang baik  sesuai dengan apa yang telah diatur dalam Al-Qur’an seperti pada surah Al-A’raf ayat 31.


يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ




Artinya :

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.


Dari ayat tersebut ialah Allah menyuruh kita memakai pakaian yang dapat menutup aurat, sopan, bersih dan baik serta indah yang dapat menambah keindahan dalam beribadah kepada Allah. Islam tidak melarang kita untuk berpakaian indah. Namun, tetap ada batas-batasan bagi umat muslim dalam berpakaian yaitu :

1.      Menutup aurat. Bagi perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Sedangkan, bagi laki-laki adalah dari perut sampai lutut.

2.      Berpakaian yang bersih dan rapih.

3.      Tidak menyerupai pakaian perempuan bagi laki-laki begitupun sebaliknya.

4.      Tidak ketat dan transparan.

5.      Tidak berlebih-lebihan dalam berhias.

6.      Larangan memakai emas dan sutera bagi laki-laki.

7.      Larangan menyerupai orang kafir.

8.      Tidak menimbulkan riak (sombong).

Adapun fungsi pakaian yaitu :

1.      Sebagai penutup aurat. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya : “Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutup auratmu (yuwa - ri saua-ti-kum) dan untuk perhiasan (ri-syan) bagimu. Tetapi pakaian taqwa (liba suttaqwa-), itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.” (Q.S. al-A„ra-f : 26)

2.      Sebagai indentitas diri. Pakaian yang dipakai diharapkan menunjukkan bahwa dia adalah seorang muslim.

3.      Sebagai perhiasan. Pakaian juga berfungsi sebagai perhiasan, apabila kita berpakaian yang rapi, sopan, dan bersih.

4.      Sebagai pelindung diri. Pakaian juga berfungsi sebagai pelindung diri dari sengatan matahari. "..dan Dia (ALLAH) telah jadikan bagi kamu pakaian itu sebagai pelindung diri kamu daripada (cuaca) panas..(Q.S. An-Nahl:81)

Etika dalam berpakaian yaitu :

1.      Membaca doa.

2.      Disunnahkan untuk mendahulukan anggota tubuh yang bagian kanan dalam mengenakan pakaian.

3.      Memakai pakaian yang rapi, sopan, bersih sesuai dengan tempat.

4.      Disunnahkan melepas pakaian dari sebelah kiri.

Rasulullah SAW juga selalu menjaga kebersihan badan sesuai sabdanya yaitu : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Kewajiban bagi setiap Muslim untuk mandi satu harí dalam satu minggu, dengan membasahi kepala dan tubuhnya“. Juga menyuruh kita untuk menjaga kebersihan mulut. Sesuai sabda Rasulullah SAW :  “Seandainya tidak akan memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat“. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam ayat ini juga Allah mengatur perkara tentang makan dan minum yaitu jangan melampaui batas makan dan minum yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang di halalkan. Tujuan makanan dalam islam yaitu untuk mempertahankan kehidupan dan membuat kondisi tubuh tetap sehat untuk bekerja, belajar, dan beribadah. Kesehatan adalah nikmat dari Allah SWT. yang tak terkira, contoh paling baik dalam menjaga kesehatan adalah contoh dari Rasullah SAW.   Contoh dari beliau yaitu untuk jangan terlalu banyak makan dan minum. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW : “Tiada tempat paling buruk selain perut yang di isi oleh manusia. Cukuplah bagi manusia beberapa suapan sekedar untuk menegakkan tulang iganya. Jika dia mengisi perutnya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk pernapasannya (udara).”

Adapun batasan dalam makan dan minum yaitu: Batas dalam lapar, haus, kenyang. Kita sebagai manusia makan ketika merasa lapar dan sebaiknya berhenti makan dengan tidak terlalu kenyang, dan minum untuk sekedar melepas dahaga, walaupun nafsu makan atau minum masih ada. Dalam batasan ekonomi. Kita sebagai manusia sebaiknya membeli makanan secukupnya disesuaikan dengan ekonomi keuangan masing-masing. Jangan berlebihan dalam berbelanja karena akan mendatangkan kerugian apabila pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Batas Syara’, Allah telah mengharamkan beberapa jenis makanan dan juga jenis minuman. Memilih mana yang halal dan mana yang haram merupakan kewajiban umat islam agar tidak melanggar batas-batas syara’ yang dilarang Allah.

Tentang orang yang suka makanan berlebihan, Allah SWT menggambarkan mereka seperti cara makan hewan. Mereka berlebih-lebihan sampai sekenyang-kenyangnya, tidak beraturan asal mata terjaga perutnyalah yang dipikirkannya. Berbagai bentuk makanan dimasukkan kedalam perutnya, entah yang halal maupun haram. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Muhammad ayat 12, yang artinya “ mereka makan laksana hewan makan dan api nerakalah tempat kediaman mereka “.

Sebab turun nya surah Al-A’raf ayat 31 yaitu diterangkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan olwh Abdun bin Hamid dari Said bin Jubair, bahwa orang-orang pada zaman jahiliah tawaf sekeliling ka’bah dalam keaadan telanjang bulat. Mereka berkata : “ Kami tidak akan tawaf dengan memakai pakaian yang telah kami pakai untuk berbuat dosa.” Lalu datanglah seorang perempuan untuk mengerjakan tawaf dan pakaiannya dilepaskannya sama sekali sedang dalam keaadaan bertelanjang dan hanya tangan saja yang menutupi kemaluannya, karena itu turunlah ayat ini. Dari riwayat lain menyebutkan bahwa ayat ini turun ketika beberapa sahabat Nabi bermaksud meniru kaum Quraisy yang sangat menggebu-gebu semangat beragamanya hingga enggan thawaf bila tidak memakai pakaian yang baru yang belum pernah dipakai berbuat dosa.  Pada masa Jahiliah, manusia yang mengerjakan haji hanya makan makanan yang mengenyangkan, tidak makan yang sedap-sedap dan bergizi yang diperlukan oleh tubuh agar lebih kuat dalam beribadah.

C.    TAFSIR SURAH AN-NAHL AYAT 66

Makanan dan minuman yang sehat, banyak macam dan beragam jenisnya. Contoh salah satunya yaitu susu. Susu merupakan minuman sehat yang banyak mengandung vitamin dan mineral, kalsium, magnesium dan protein tinggi yang baik untuk tubuh. Apalagi bagi anak-anak di usia tumbuh membutuhkan nutrisi dan gizi yang terkandung di susu. Susu juga merupakan salah satu mukjizat Allah SWT. yang terdapat di dalam tubuh hewan ternak. Jauh sebelum ilmu pengetahuan modern muncul, Al-Qur’an sudah memberi penjelasan mengenai terbentuknya susu pada surah An-Nahl ayat 66 :

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ (66)

Artinya:

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (16: 66)

Pertama-tama susu terbentuk setelah binatang ternak mengunyah makanannya. Makanan tersebut akan sampai di lambung dan diolah nutrisinya. Sesudahnya makanan yang tersisa dan tidak bernutrisi akan disalurkan ke saluran pembuangan, sementara nutrisi akan disalurkan kedalam aliran darah. Terakhir, darah yang mengandung nutrisi akan melewati kantung proses kedua.  Dengan demikian, dipahami bahwa pada proses pertama air susu terproduksi dari proses yang ada diantara darah dan saluran pembuangan.

Dalam ayat ini hewan-hewan yang diciptakan oleh Allah SWT. juga untuk pelajaran bagi manusia sekaligus sumber kebutuhan yang dan dapat memberikan kesehatan, seperti susu yang di hasilkan oleh hewan ternak bahkan yang sangat baik untuk kesehatan dan juga obat. Padahal susu itu dihasilkan dari dalam perut hewan ternak antara kotoran dan darah. Sungguh Allah Maha Besar atas segala yang diciptakan-Nya.

Maha Kuasa Allah, Maha Luas Rahmat-Nya terhadap para hamba-Nya. Dari air susu hewan ternaklah manusia mendapatkan minuman yang lezat, mudah dicerna dan bermanfaat bagi kesehatan. Maha Kuasanya Allah menciptakan sesuatu yang bisa langsung dikonsumsi dengan memisahkan  susu yang bersih itu dari darah dan kotoran hewan sehingga mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.

D.    HUBUNGAN AYAT DENGAN EKONOMI KONTEMPORER

Konsumsi tidak lepas hubungannya dengan ekonomi. Sebelum kita mengkonsumsi pakaian serta minuman ataupun makanan, kita pasti membeli pakaian serta minuman dan makanan yang merupakan salah satu kegiatan ekonomi (kegiatan jual beli) yang pastinya selalu kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sesuai dengan Surah Al-A’raf ayat 31 bahwa sudah diatur manusia tidak boleh berlebih-lebihan dalam hal makan dan minum serta berpakaian. Tetapi dalam keadaan nyata sekarang ini. Masih banyak manusia yang tetap melampaui batas. Karena beragam macam makanan dan minuman yang ditawarkan di pasaran. Banyak diantara kita suka ingin mencoba makanan itu, makanan ini. Sehingga menyebabkan manusia membeli makanan berlebih lantaran mengikuti nafsunya, bukan karena ingin membeli makanan yang cukup untuk kebutuhannya. Mengenakan pakaian yang berlebih-lebihan karena ingin dipuji, dan bahkan sudah keluar dari ajaran Islam tentang bagaimana mengenakan pakaian yang sesuai dengan agama Islam. Kita juga harus dapat dengan bijak memilih antara keinginan dan kebutuhan agar tidak timbul sikap dan perilaku yang berlebih-lebihan.

Dalam Surah An-Nahl ayat 66 dijelaskan bahwa Allah menciptakan minuman yang dapat langsung diminum oleh manusia yaitu susu. Susu karena sangat dibutuhkan oleh banyak orang, sehingga susu dari hewan ternak oleh peternak dapat diperjualbelikan untuk memenuhi kebutuhannya yang lain dan menopang perekonomiannya. Susu juga dapat diolah bersama dengan bahan lainnya sehingga meningkatkan harga jualnya di pasaran. Jadi, susu merupakan salah satu bahan yang penting di dalam perekonomian. Sungguh Maha Kuasa dan Maha Sempurna Allah dengan segala ciptaanNya.













BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

1.      Konsumsi adalah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, barang maupun jasa untuk memenuhi kebutuhan sandang maupun pangan di kehidupan sehari-hari.

2.      Dalam Q.S. Al-A’raf ayat 31, perbuatan yang berlebih-lebihan termasuk makan dan minum serta berpakaian yang melewati batas akan merugikan dan tidak disukai oleh Allah, karena setiap sesuatu yang tidak disukai oleh Allah SWT. akan mendatangkan dampak yang negative bagi manusia itu sendiri. Dalam Q.S. An-Nahl ayat 66, Allah SWT. menciptakan susu yang bersih dari perut hewan ternak yang keluar diantara darah dan kotoran dan bermanfaat bagi manusia yang merupakan tanda-tanda kesempurnaan Allah serta sifat-sifatNya Yang Maha Sempurna.

3.      Hubungan Q.S. Al-A’raf ayat 31 adalah mengatur gaya hidup yang berkaitan dengan bidang ekonomi yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Hubungan Q.S. An-Nahl ayat 66 adalah penciptaan susu oleh Allah bermanfaat dalam bidang ekonomi untuk memenuhi kebutuhan.

B.    SARAN

Dalam penyelesaian makalah ini, kami tidak lepas dari kesalahan-kesalahan yang mungkin kami tidak sadari. Maka dari itu, kami mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun dari Bapak Dosen.





DAFTAR PUSTAKA

“Konsumsi”. Wikipedia Ensiklopedia Bebas. http://id.wikipedia.org/wiki/konsumsi  ( 23 November 2014)

Kusumawardani, Yunita. “Pola Hidup Sederhana”. Blog Yunita Kusumawardani.  http://yunita-kusumawardani.blogspot.com/2012/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html (26 November 2014)

Fauroni, Lukman. Peran Badan Usaha Dalam Perekonomian Indonesia. http://www.scribd.com/doc/28846387/Artikel-Jurnal-MSI-UII-Tafsir-Ayat-ayat-Konsumsi  (26 November 2014)

Arifil Huda, Dhony. “Tafsir Ayat Konsumsi (bag 4)”. Blog Dhony Arifil Huda. http://berandapagihari.blogspot.com/2013/03/tafsir-ayat-konsumsi-bag-4.html (30 November 2014)

Fikriani, Alivea. “Kandungan Surat Al-A’raf ayat 31”. Blog Alivea Fikriani. http://liviatan2403.blogspot.com/2012/10/kandungan-surat-al-araf-ayat31.html (30 November 2014)

Eka, Dalila. “Alam Semesta Sebagai Tanda Kebesaran Allah SWT.”. Blog Dalila Eka. http://ekakundur.blogspot.com/2012/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_13.html (30 November 2014)

Wahyu, Arung. “Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 65-69”. Blog Arung Wahyu. https://arungwahyu.wordpress.com/2012/11/13/al-quran-surah-an-nahl-ayat-65-69/ (30 November 2014)

Iran Indonesian Radio. “Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 66-69”. Situs Resmi Iran Indonesia Radio. http://indonesian.irib.ir/islam/al-quran/item/84570-tafsir-al-quran-surat-an-nahl-ayat-66-69 ( 31 November 2014)

Islamic Economics Course. “Q.S.Al-A’raf (7) : 31”. Situs Resmi Islamic Economics Course. http://iecourse.blogspot.com/2014/02/qs-al-araf-7-31.html ( 31 November 2014)


Manajemen keuangan perusahaan (BAB 9)


Manajemen keuangan perusahaan (BAB 9)

Manajemen keuangan perusahaan

Manajemen keuangan adalah suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh suatu organisasi atau perusahaan.

Manajemen keuangan berhubungan dengan 3 aktivitas, yaitu :

Aktivitas penggunaan dana, yaitu aktivitas untuk menginvestasikan dana pada berbagai aktiva. Aktivitas perolehan dana, yaitu aktivitas untuk mendapatkan sumber dana, baik dari sumber dana internal maupun sumber dana eksternal perusahaan. Aktivitas pengelolaan aktiva, yaitu setelah dana diperoleh dan dialokasikan dalam bentuk aktiva, dana harus dikelola seefisien mungkin.

Fungsi Manajemen Keuangan

Berikut ini adalah penjelasan singkat dari fungsi Manajemen Keuangan:

Perencanaan Keuangan, membuat rencana pemasukan dan pengeluaraan serta kegiatan-kegiatan lainnya untuk periode tertentu. Penganggaran Keuangan, tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran dan pemasukan. Pengelolaan Keuangan, menggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara. Pencarian Keuangan, mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk operasional kegiatan perusahaan. Penyimpanan Keuangan, mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dan mengamankan dana tersebut. Pengendalian Keuangan, melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada perusahaan. Pemeriksaan Keuangan, melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar tidak terjadi penyimpangan. Pelaporan keuangan, penyediaan informasi tentang kondisi keuangan perusahaan sekaligus sebagai bahan evaluasi

Bila dikaitkan dengan tujuan ini, maka fungsi manajer keuangan meliputi hal-hal sebagai berikut :

Melakukan pengawasan atas biaya Menetapkan kebijaksanaan harga Meramalkan laba yang akan datang Mengukur atau menjajaki biaya modal kerja

Tujuan Manajemen Keuangan

Tujuan Manajemen Keuangan adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Dengan demikian apabila suatu saat perusahaan dijual, maka harganya dapat ditetapkan setinggi mungkin. Seorang manajer juga harus mampu menekan arus peredaran uang agar terhindar dari tindakan yang tidak diinginkan.

Perencanaan keuangan yang baik Perencanaan Keuangan yang baik harus melalui proses dari : Menganalisis pendanaan dan pilihan investasi yang terbuka bagi perusahaan. Memproyeksikan konsekuensi masa yang akan datang akibat keputusan saat ini, guna menghidari hal-hal yang tidak terduga dan hubungan antara keputusan saat ini dan masa yang akan datang. Menentukan alternatif mana yang akan dipilih Mengukur hasil selanjutnya terhadap tujuan dalam rencana keuangan.

manajemen keuangan perusahaan yang baik

bisa menginvestasikan modalnya dengan baik untuk jangka waktu yang panjang mengerti/memahami kondisi keuangan perusahaan, agar perusahaan tersebut bisa menentukan kapan dia bisa mengembangkan usahanya, penambahan karyawan, atau penambahan-penambahan yang lainnya harus bisa menghitung labarugi perusahaan

kesimpulannya perusahaan harus bisa mengetahui kondisi keuangan perusahaan agar bisa menentukan langkah pergerakan perusahaan kedepannya bagaimana, bisa memberikan hak-hak karyawan dengan baik dan tidak merugikan karyawan. jika manajemen keuangan itu semua bisa terstruktur dengan baik, maka itulah yang disebut dengan mana jemen perusahaan yang sehat/baik


1. MANAJEMEN KEUANGAN PERUSAHAAN Presented by Dominicus Leonard P., SE

2. DEFINISI MANAJEMEN KEUANGAN• Suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan.• segala kegiatan manajemen yang berkaitan dengan aktifitas mencari dana dengan biaya seefisien mungkin dan aktifitas menggunakan dana seefektif mungkin.

3. PERAN MANAJEMEN KEUANGAN• Manajemen keuangan merupakan manajemen terhadap fungsi-fungsi keuangan. Fungsi- fungsi keuangan tersebut meliputi begaimana memperoleh dana (raising of fund) dan bagaimana menggunakan dana tersebut (allocation of fund).

4. TUGAS POKOK MANAJEMEN KEUANGAN• Keputusan berinvestasi• Pembiayaan kegiatan usaha• Pembagian deviden perusahaan

5. TUGAS SEORANG MANAJER KEUANGAN• Bekerjasama dengan para manajer lainnya yang bertanggung jawab atas perencanaan umum perusahaan.• Memusatkan perhatian pada berbagai keputusan investasi dan pembiayaan, dan berbagai hal yang berkaitan dengannya• bekerjasama dengan para manajer di perusahaan agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin• Mampu menghubungkan perusahaan dengan pasar keuangan, dimana perusahaan dapat memperoleh dana dan surat berharga perusahaan dapat diperdagangkan.

6. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN KEUANGAN• Mengambil keputusan investasi (investment decision)• Mengambil keputusan pembelanjaan (Financing Decision)• Mengambil keputusan deviden (dividend decision)Tujuan : memaksimumkan nilai perusahaan

7. PENGANGGARAN MODAL• Proses menganalisis potensi investasi aktiva tetap dan keputusan penganggaran modal mungkin adalah keputusan paling penting yang harus diambil oleh para manajer keuangan.

8. MOTIF PENGANGGARAN MODAL• Ekspansi : membuka cabang, diperlukan modal yang besar• Replacement : mengganti sesuatu yang usang menjadi baru• Renewal : tambal sulam• Lain-lain : paten, trademark, dsb asalkan tidak berwujud

9. PROSEDUR PENGANGGARAN MODAL• Membuat Proposal : biaya yang diperlukan apa saja• Review dan analisa• Membuat keputusan apakah penganggaran modal tersebut layak atau tidak• Implementasi• Feedback / umpan balik atas hasil implementasi

10. PENGGOLONGAN INVESTASI AKTIVA TETAP• Tanah• Gedung atau bangunan• Mesin-mesin• Kendaraan• Peralatan

11. METODE PEMILIHAN INVESTASI• Average rate of return• Payback• Net present value• Internal rate of return• Profitability index

12. AVERAGE RATE OF RETURN• Metode ini mengukur berapa tingkat keuntungan rata-rata yang diperoleh dari suatu investasi. Angka yang dipergunakan adalah laba setelah pajak dibandingkan dengan total average investment.• Hasil yang diperoleh dinyatakan dalam persentase. Angka ini kemudian diperbandingkan tingkat keuntungan yang disyaratkan, jika lebih besar maka proyek dikatakan menguntungkan, apabila lebih kecil daripada tingkat keuntungan yang disyaratkan proyek ditolak.

13. PAYBACK• Mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali. Karena itu satuan hasilnya bukan persentase, tapi satuan waktu. Kalau periode payback ini lebih pendek daripada yang disyaratkan, maka proyek dikatakan menguntungkan, sedangkan kalau lebih lama proyek ditolak.

14. NET PRESENT VALUE• Metode ini menghitung selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih (operasional maupun terminal cash flow) dimasa yang akan datang. Untuk menghitung nilai sekarang tersebut perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan. Apabila nilai sekarang penerimaan- penerimaan kas bersih dimasa yang akan datang lebih besar daripada nilai sekarang investasi, mak proyek ini dikatakan menguntungkan sehingga diterima. Sedangkan apabila nilainya kecil (NPV negatif), proyek ditolak karena tidak menguntungkan.

15. INTERNAL RATE OF RETURN• Metode ini menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa-masa mendatang.Apabila tingkat bunga ini lebih besar daripada tinkat bunga relevan(tingkat keuntungan yang disyaratkan),maka investasi dikatakan menguntungkan, kalau lebih kecil dikatakan merugikan.

16. PROFITABILITY INDEX• Metode ini menghitung perbandingan antara nilai sekarang penerimaan- penerimaan kas bersih di masa datang dengan nilai sekarang investasi.Kalau Profitability Index (PI)-nya lebih besar daripada 1,maka proyek dikatakan menguntungkan,tetapi kalau kurang dikatakan tidak menguntungkan. Sebagaimana metode NPV,maka metode ini perlu menentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang akan dipergunakan.

17. PERENCANAAN KEUANGAN• Mengapa perusahaan membutuhkan dana ? – untuk membiayai kegiatan perusahaan yaitu investasi – Membayar deviden kepada pemegang saham• Pembiayaan perusahaan

18. PEMBIAYAAN PERUSAHAAN• Jangka pendek * Utang dagang (trade credit) * Pinjaman bank jangka pendek dgn jaminan * Pinj. bank jangka pendek tanpa jaminan * Letter of credit * Commersial Paper * Factoring

19. PEMBIAYAAN PERUSAHAAN (CONT.)• Jangka Panjang * Utang jangka panjang * Obligasi perusahaan * Saham biasa * Laba ditahan

20. SELESAI


SISTEM INFORMASI AKUNTANSI (Pengantar Pemrosesan Transaksi)


GAMBARAN UMUM PEMROSESAN TRANSAKSI

Transaksi keuangan adalah kegiatan ekonomi yang mempengaruhi aktiva dan ekuitas perusahaan, dicerminkan dalam akun-akunnya dan diukur dalam satu mata uang. Transaksi keuangan dibagi menjadi dua macam yaitu :

·         Transaksi keuangan eksternal yaitu penjualan barang atau jasa, pembelian persediaan, pembebasan kewajiban keuangan dan penerimaan kas dari pelanggan.

·         Transaksi keuangan internal yaitu depresiasi aktiva tetap, aplikasi tenaga kerja, aplikasi bahan baku, aplikasi overhead proses produksi dan transaksi  persediaan dari satu departemen ke departemen lain.

Pengertian Siklus

Siklus adalah kumpulan prosedur yang saling berkaitan dan berurutan. Prosedur adalah serangkaian kegiatan yang saling berurutan untuk menangani suatu peristiwa (yang di dalam akuntansi disebut dengan transaksi). Siklus transaksi terbagi atas yaitu :

1.      Siklus Pengeluaran (The Expenditure Cycle) yaitu siklus yang berfungsi untuk mencatat pengeluaran sumber daya ekonomis yang ada di dalam perusahaan, di mulai sejak ada pemerintahan barang dan jas, hingga melakukan pembayaran gterhadap pemasok.

2.      Siklus Konveksi (The Conversional Cycle) yaitu siklus yang berfungsi mengubah bahan baku menjadi barang jadi (untuk perusahaan manufactur) atau berfungsii untuk membuat produk yang siap dijual kepada pembeli (untuk perusahaan jasa).

3.      Siklus Pendapatan (The Revenue Cycle) yaitu siklus yang bertujaun untuk mengubah produk perusahaan (baik barang maupun jasa) menjadi kas.

PENCATATAN AKUNTANSI

1.      Sistem Manual

Mendeskripsikan tujuan setiap jenis catatan akuntasi ( Accounting Record) yang digunakan dalam siklus tansaksi. Beberapa diperlukan yaitu :

·         Dokumen

Dokumen dibagi menjadi :

1.      Dokumen sumber

2.      Dokumen produk

3.      Dokumen perputaran

·         Jurnal

Jurnal adalah catatan ayat-ayat secara kronologis.

1.      Jurnal Khusus. Jurnal khusus digunakan untuk mencatat kelas transaksi khusus yang muncul dalam volume besar. Misalnya, jurnal penerimaan kas, jurnal pengeluaran kas, jurnal pembelian, dan jurnal penggajian.

2.      Register. Istilah ini mengacu pada jenis-jenis tertentu dari jurnal khusus.

3.      Jurnal Umum. Perusahaan mencatat jurnal umum untuk mencatat transaksi yang jarang terjadi atau yang tidak sama.

·         Buku besar

Buku besar (ledger) adalah buku akun keuangan yang mencerminkan pengaruh keuangan dari transaksi setelah dibukukan dari berbagai jurnal. Jurnal menunjukkan efek kronologis dari aktivitas bisnis, sedangkan buku besar menunjukkan aktivitas per jenis akun. Buku besar di bagi lagi menjadi

1.      Buku Besar Umum (General Ledger)

2.      Buku Besar Pembantu (Subsidiary Ledger)

2.      Jejak Audit

Catatan akuntansi yang dijelaskan sebelumnya menyediakan jejak audit (audit trail) untuk menelusuri transaksi dari dokumen sumber ke laporan keuangan. Di antara berbagai tujuan dari jejak audit, yang paling penting bagi akuntan adalah audit akhir tahun.  Auditor eksternal secara berkala mengevaluasi laporan keuangan dari organisasi bisnis yang terbuka atas nama pemegang sahamnya dan pihak- pihak lain yang berkepentingan. Tanggung jawab auditor mencakup peninjauan akun-akun dan transaksi tertentu untuk menentukan validitas, akurasi, dan kelengkapan.

3.      Sistem Berbasi Komputer

Jenis File yaitu:

1.      File Master yaitu Buku Besar Umum & Pembantu.

2.      File Transaksi yaitu Pesanan Penjualan, Penerimaan Persediaan, & Penerimaan Kas.

3.      File Referensi yaitu Daftar Nama Pegawai & Daftar Nama Pemasok Yang Diotorisasi.

4.      File Arsip yaitu Jurnal, Informasi Penggajian Periode Sebelumnya, Buku Besar Periode Sebelumnya & Catatan Nama Akun Yang Dihapus.

Jejak Audit Digital yaitu :

1.      Bandingkan saldo piutang dagang dalam neraca dengan saldo akun pengendali Piutang Dagang di file master.

2.      Rekonsiliasikan angka akun pengendali AR dengan total akun pembantu AR.

3.      Pilih sampel dari ayat-ayat yang diperbarui pada akun di buku besar pembantu AR dan telusuri transaksinya dalam jurnal penjualan (file arsip).

4.      Dari ayat-ayat jurnal ini, identifikasikan dokumen sumber fisik yang dapat ditarik dari file-file ini dan diverifikasi. Jika perlu, auditor bisa mengkonfirmasi akurasi dan ketepatan dokumen sumber ini dengan cara menghubungi pelanggan-pelanggan yang dipertanyakan.

TEKNIK DOKUMENTASI

1.      Diagram Arus Data dan Diagram Relasi Entitas

Diagram arus data

Diagram arus data (data flow diagram – DFD) menggunakan simbol- simbol untuk menyajikan entitas, proses, arus data, dan penyimpanan data yang berkaitan dengan suatu sistem.

·         Entitas dalam DFD adalah objek-objek eksternal dalam sistem yang dimodelkan, misalnya pelanggan dan pemasok.  DFD digunakan untuk menyajikan sistem dalam beberapa tingkat perincian dari yang sangat umum ke yang sangat terperinci.  DFD menunjukkan tugas logis yang sedang dilakukan, namun tidak menunjukkan cara melakukannya atau siapa yang melakukannya.

Diagram relasi entitas

·         Diagram relasi entitas (entity relationship – ER) adalah teknik yang digunakan untuk menyajikan relasi antara entitas. Entitas (entity) adalah sumber daya yang akan digunakan oleh organisasi untuk mendapatkan data.

2.      Bagan Alir

Bagan alir (flowchart) adalah representasi grafis dari sistem yang mendeskripsikan relasi fisik di antara entitas-entitas intinya. Bagan alir dapat digunakan untuk menyajikan aktivitas manual, aktivitas pemrosesan komputer, atau keduanya. Bagan alir dokumen (document flowchart) digunakan untuk menggambarkan elemen-elemen dari sistem manual, termasuk catatan akuntansi (dokumen, jurnal, buku besar, dan file), departemen organisasional yang terlibat dalam proses, dan aktivitas (baik yang bersifat administratif maupun fisik) yang dilakukan dalam departemen tersebut.

·         Bagan Alir Dokumen

 Aturan dan konvensi tertentu yang perlu diamati dalam Bagan Alir Dokumen yaitu :

1.      Bagian alur harus diberi label untuk secara jelas mengidentifikasi sistem yang diwakilinya.

2.      Simbol yang benar harus digunakan untuk mewakili entitas dalam sistem tersebut.

3.      Semua simbol dalam bagan alir harus diberi label.

4.      Garis-garis harus memiliki kepala panah untuk secara jelas menunjukkan arus proses dan urutan peristiwa.

5.       Jika suatu proses yang rumit memerlukan penjelasan tambahan, teks penjelasan harus dimasukkan dalam bagan alir atau dilekatkan dalam dokumen yang dirujuk oleh bagan alir tersebut

·         Pemrosesan Batch

Pemrosesan batch (batch processing) memungkinkan efisiensi manajemen untuk volume transaksi dalam jumlah besar. Batch adalah sekelompok transaksi yang serupa (misalnya pesanan penjualan) yang diakumulasi sepanjang waktu dan kemudian diproses bersama-sama.

Keunggulan umum dalam pemrosesan batch :

1.      Organisasi bisa meningkatkan efisiensinya dengan mengelompokkan sejumlah besar transaksi ke dalam batch daripada memproses setiap peristiwa secara terpisah.

2.      Pemrosesan batch memungkinkan pengendalian atas pemrosesan transaksi.

·         Bagan Alir Sistem

Menata Letak Area Fisik dari Aktivitas. Semuanya hampir sama dengan bagan alir dokumen. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa sistem ini memiliki departemen operasi komputer dan tidak memiliki departemen kredit. Menyajikan Fakta Tertulis ke Dalam Format Visual. Semuanya hampis sama dengan bagan alir dokumen. Namun, aktivitas sekarang diotomatisasi dan simbol proses manual telah diganti dengan simbol terminal komputer.

·         Bagan Alir Program

Bagan alir program menunjukan relasi antara dua program komputer, file yang digunakan, dan output yang dihasilkan. Akan tetapi, tingkat dokumentasi ini tidak memberikan perincian operasional yang kadang-kadang diperlukan.  Setiap program yang disajikan dalam bagan alir sistem harus memiliki sebuah bagan alir program pendukung yang mendiskripsikan logikanya.

3.      Diagram Tata Letak Record

Diagram tata letak record (record layout diagram) digunakan untuk mengungkapkan struktur internal record yang membentuk file atau table basis data.

SISTEM AKUNTASI BERBASI KOMPUTER

a.      Perbedaan antara Sistem Batch dan Real-Time

1.      Kerangka Waktu Informasi.

·         Batch : Terdapat jeda antara waktu terjadinya kegiatan ekonomi dengan waktu pencatatannya.

·         Real-Time : Pemrosesan dilakukan ketika kegiatan ekonomi terjadi.

2.      Sumber Daya

·         Batch : Umumnya. lebih sedikit sumber daya (peranti keras, pemrograman, pelatihan) yang dibutuhkan.

·         Real-Time :Lebih banyak sumber daya yang dibutuhkan daripada pemrosesan batch.

3.      Efisiensi Operasional

Batch : Record tertentu diproses setelah peristiwa terjadi untuk menghindari penundaan operasional.

Real- Time : Semua record yang berkaitan dengan peristiwa diproses segera.

4.      Efisiensi vs Efektivitas

Jika akses segera ke informasi saat ini penting bagi kebutuhan pengguna, maka pemrosesan real-time merupakan pilihan yang logis. Ketika jeda waktu dalam informasi tidak memberikan pengaruh yang merugikan terhadap kinerja pengguna dan efisiensi operasional bisa dicapai melalui pemrosesan data secara batch, maka pemrosesan batch merupakan pilihan yang tepat

b.      Pendekatan Pemrosesan Data Alternatif

Sistem Warisan VS Sistem Modern

·         Sistem warisan memiliki fitur berikut ini : memiliki aplikasi berbasis mainframe, berorientasi pada batch, sistem warisan yang awal menggunakan file datar untuk menyimpan data, namun basis data hierarki dan jaringan sering berkaitan dengan era sistem warisan yang lebih maju.

·         Sistem modern cenderung berbasis klien-server dan memproses transaksi secara real-time. Namun perlu disadari bahwa masih banyak sistem modern yang menggunakan pemrosesan batch. Sistem modern menyimpan transaksi dan file utama dalam tabel basis data relasional. Keuntungannya adalah bahwa proses proses bisa diintergrasikan dan data bisa saling dibagi dalam organisasi.

Pembaruaan File Master dari Transaksi

Baik pemrosesan batch maupun pemrosesan real-time yang digunakan, pembaruan record file utama mencakup perubahan nilai dari satu atau beberapa field untuk merefleksikan pengatuh dari suatu transaksi.

Prosedur Pembuatan Cadangan Basis Data

Pendekatan pembaruan destruktif tidak menyediakan salinan cadangan dan file master yang asli. Hanya nilai saat ini yang tersedia bagi pengguna. Jika file utama saat ini rusak, maka tidak akan ada cadangan untuk mengkonstruksi kembali file tersebut. Untuk mempertahankan record akuntansi yang memadai prosedur pembuatan cadangan harus diimplementasikan.


c.       Pemrosesan Batch dengan Menggunakan Pengumpulan Data Secara Real-Time

Pendekatan pemrosesan data yang populer adalah menangkap secara elektronik data transaksi pada sumbernya ketika terjadi. Dengan mendistribusikan kemampuan input data ke pengguna kesalahan transaksi tertentu bisa dicegah atau dideteksi dan dikoreksi pada sumbernya. Hasilnya ialah file transaksi yang bebas dari kebanyakan kesalahan yang sering terjadi pada sistem warisan yang lama. File transaksi kemudian diproses dengan cara batch untuk mencapai efisiensi operasional.

d.      Pemrosesan Real-Time

Sistem real-time yaitu memproses seluruh transaksi pada saat terjadi. Sistem semacam ini memiliki banyak potensi keuntungan, termasuk perbaikan produktivitas, pengurangan persediaan, peningkatan perputaran persediaan, pengurangan jeda dalam penagihan pelanggan, dan perbaikan kepuasan pelanggan. Karena informasi transaksi ditransmisikan secara elektronik, dokumen sumber fisik bisa dieliminasi atau dikurangi.

MAKALAH KESANTUNAN BERBAHASA


MAKALAH KESANTUNAN BERBAHASA


BAB I

PENDAHULUAN

 1.1             Latar Belakang

Kita tahu bahwa masyarakat kita (indonesia) sangat menjunjung kesantunan dalam berbahasa. Makna yang akan disampaikan tidak hanya terkait dengan pemilihan kata, tetapi juga cara penyampaiannya. Sebagai contoh, pemilihan kata yang tepat apabila disampaikan dengan cara kasar akan tetap dianggap kurang santun. Kesantunan memang amat penting di mana pun individu berada. Setiap anggota masyarakat percaya bahwa kesantunan yang diterapkan mencerminkan budaya suatu masyarakat, termasuk kesantunan berbahasa. Apalagi setiap masyarakat selalu ada hierarkhi sosial yang dikenakan pada kelompok-kelompok anggota mereka. Hal ini terjadi karena mereka telah menentukan penilaian tertentu, misalnya, antara tua – muda, majikan – buruh, guru – murid, kaya – miskin, dan status lainnya. Selain itu, faktor konteks juga menyebabkan kesantunan perlu diterapkan. Suasana formal atau resmi sangat menekankan kesantunan ini. Penilaian yang diberikan kepada hierarkhi sosial merupakan penilaian emotif yang diberikan kepada seseorang individu atau kelompok. Penilaian sepeti ini merupakan tanda hormat atau apresiasi kepada yang bersangkutan. Kalau diteliti lebih jauh, fenomena ini sudah diterapkan oleh masyarakat kita sejak dulu.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:

·         Pengertian Kesantunan Berbahasa

·         Jenis Kesantunan

·         Pembentukan Kesantunan Berbahasa

·         Aspek-aspek Non-linguistik yang Mempengaruhi Kesantunan Berbahasa

 1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan dalam pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:

·         Untuk Mengetahui Pengertian Kesantunan

·         Untuk Mengetahui Jenis Kesantunan

·         Untuk Mengetahui Pembentukan Kesantunan Berbahasa

·         Untuk Mengetahui Aspek-aspek Non-linguistik yang Mempengaruhi Kesantunan Berbahasa

 1.4             Kegunaan Makalah

Disusunnya makalah ini adalah selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Wacana Ilmiah, juga untuk mengetahui pentingnya tentang kesantunan berbahasa.

 BAB II

PEMBAHASAN

 2.1             Tinjauan Pustaka

Pada hakikatnya, bahasa yang dimiliki dan digunakan oleh manusia tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Seandainya ada bahasa yang sudah mampu mengungkapkan sebagian besar pikiran dan perasaan lebih dari bahasa yang lain, bukan karena bahasa itu lebih baik tetapi karena pemilik dan pemakai bahasa sudah mampu menggali potensi bahasa itu lebih dari yang lain. Jadi yang lebih baik bukan bahasanya tetapi kemampuan manusianya. Semua bahasa hakikatnya sama, yaitu sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, ungkapan bahwa bahasa menunjukkan bangsa tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa bahasa satu lebih baik dari bahasa yang lain. Maksud dari ungkapan itu adalah bahwa ketika seseorang sedang berkomunukasi dengan bahasanya mampu menggali potensi bahasanya dan mampu menggunakannya secara baik, benar, dan santun merpakan cermin dari sifat dan kepribadian pemakainya.

Pendapat Sapir dan Worf (dalam Wahab, 1995) menyatakan bahwa bahasa menentukan perilaku budaya manusia memang ada benarnya. Orang yang ketika berbicara menggunakan pilihan kata, ungkapan yang santun, struktur kalimat yang baik menandakan bahwa kepribadian orang itu memang baik. Sebaliknya, jika ada orang yang sebenarnya kepribadiannya tidak baik, meskipun berusaha berbahasa secara baik, benar, dan santun di hadapan orang lain; pada suatu saat tidak mampu menutup-nutupi kepribadian buruknya sehingga muncul pilihan kata, ungkapan, atau struktur kalimat yang tidak baik dan tidak santun.

Bersikap atau berbahasa santun dan beretika juga bersifat relatif, tergantung pada jarak sosial penutur dan mitra tutur. Selain itu, makna kesantunan dan kesopanan juga dipahami sama secara umum; sementara itu, kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. Istilah sopan merujuk pada susunan gramatikal tuturan berbasis kesadaran bahwa setiap orang berhak untuk dilayani dengan hormat, sementara santun itu berarti kesadaran mengenai jarak sosial (Thomas, 1995).

Jika norma-norma dalam tradisi lokal menanamkan kesantunan dalam berbahasa, mungkin belum terjadi pemilahan antara kesopanan (deference) dan kesantunan (politeness). Sebuah teori yang akan disuguhkan berikut ini adalah teori kesantunan berbahasa yang diadopsi dari tradisi moral Cina yang dikembangkan oleh Konfusius dan diteorisasikan oleh Goffman, Brown, dan Levinson. Teori yang diulas singkat ini, serta contoh-contoh dari data empiris diharapkan membuka cakrawala berfikir kita mengenai kesantunan berbahasa.

2.2 Pengertian Kesantunan

Kesantunan (politiness), kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingg kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Oleh karena itu, kesantunan ini biasa disebut "tatakrama". Berdasarkan pengertian tersebut, kesantunan dapat dilihat dari dari berbagai segi dalam pergaulan sehari-hari.

Pertama, kesantunan memperlihatkan sikap yang mengandung nilai sopan santun atau etiket dalam pergaulan sehari-hari. Ketika orang dikatakan santun, maka dalam diri seseorang itu tergambar nilai sopan santun atau nilai etiket yang berlaku secara baik di masyarakat tempat seseorang itu megambil bagian sebagai anggotanya. Ketika dia dikatakan santun, masyarakat memberikan nilai kepadanya, baik penilaian itu dilakukan secara seketika (mendadak) maupun secara konvensional (panjang, memakan waktu lama). Sudah barang tentu, penilaian dalam proses yang panjang ini lebih mengekalkan nilai yang diberikan kepadanya.

Kedua, kesantunan sangat kontekstual, yakni berlaku dalam masyarakat, tempat, atau situasi tertentu, tetapi belum tentu berlaku bagia masyarakat, tempat, atau situasi lain. Ketika seseorang bertemu dengan teman karib, boleh saja dia menggunakan kata yang agak kasar dengan suara keras, tetapi hal itu tidak santun apabila ditujukan kepada tamu atau seseorang yang baru dikenal. Mengecap atau mengunyah makanan dengan mulut berbunyi kurang sopan kalau sedang makan dengan orang banyak di sebuah perjamuan, tetapi hal itu tidak begitu dikatakan kurang sopan apabila dilakukan di rumah.

Ketiga, kesantunan selalu bipolar, yaitu memiliki hubungan dua kutub, seperti antara anak dan orangtua, antara orang yang masih muda dan orang yang lebih tua, antara tuan rumah dan tamu, antara pria dan wanita, antara murid dan guru, dan sebagainya.

Keempat, kesantunan tercermin dalam cara berpakaian (berbusana), cara berbuat (bertindak), dan cara bertutur (berbahasa).

2.3 Jenis Kesantunan

Berdasarkan butir terakhir itu, kesantunan dapat dibagi tiga, yaitu kesantunan berpakaian, kesantunan berbuat, dan kesantunan berbahasa. Kecuali berpakaian, dua kesantunan terakhir tidak mudah dirinci karena tidak ada norma baku yang dapat digunakan untuk kedua jenis kesantunn itu.

Dalam kesantunan berpakaian (berbusana, berdandan), ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, berpakaianlah yang sopan di tempat umum, yaitu hindarilah pakaian yang dapat merangsang orang lain terutama lawan jenis, seperti pakaian tembus pandang (transparan), menampakkan bagian badan yang pada umumnya ditutup, dan rok yang terlalu mini atau terbelah terlalu tinggi. Kedua, berpakaianlah yang rapi dan sesuai dengan keadaan, yaitu berpakaian resmi pada acara resmi, berpakaian santai pada situasi santai, berpakaian renang pada waktu renang. Betapapun mahalnya pakaian renang, tidak akan sesuai apabila dipakai dalam suatu acara resmi.

Kesantunan perbuatan adalah tatacara bertindak atau gerak-gerik ketika menghadapi sesuatu atau dalam situasi tertentu.misalnya ketika menerima tamu, bertamu ke rumah orang, duduk di ruang kelas, menghadapi orang yang kita hormati, berjalan di tempat umum, menunggu giliran (antre), makan bersama di tempat umum, dan sebagainya. Mmasing-masing situasi dan keadaan tersebut memerlukan tatacara yang berbeda. Pada waktu makan bersama, misalnya, memerlukan kesantuan dalam cara duduk, cara mengambil makanan, cara makan atau mengunyah, cara memakai sendok, cara membersihkan mulut setelah makan, dan cara memakai tusuk gigi. Sekedar contoh terkait dengan kesantunan tindakan, misalnya tidaklah santun apabila kita berwajah murung ketika menerima tamu, duduk dengan "jigrang" ketika mengikuti kuliah dosen,bertolak pinggang ketika berbicara dengan orang tua, mendahului orang lain dengan bersenggolan badan atau ketika berjalan di tempat umum tanpa sebab, nyelonong ke loket ketika yang lain sedang antre menanti giliran, menguap selebar-lebarnya sambil mengeluarkan suara di depan orang lain, dan mencungkil gigi tanpa menutup mulut ketika sedang makan bersama di tempat umum.

Kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita tunduk pada norma-norma budaya, tidak hanya sekedar menyampaikan ide yang kita pikirkan. Tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunannya suatu bahasa dalam berkomunikasi. Apabila tatacara berbahasa seseorang tida sesuai dengan norma-norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya.

Tatacara berbahasa sangat penting diperhatikan para peserta komunikasi (komunikator dan komunikan) demi kelancaran komunikasi. Oleh karena itu, masalah tatacara berbahasa ini harus mendapatkan perhatian, terutama dalam proses belajar mengajar bahasa. Dengan mengetahui tatacara berbahasa diharapkan orang lebih bisa memahami pesan yang disampaikan dalam komunikasi karena tatacara berbahasa bertujuan mengatur serangkaian hal berikut.

1. Apa yang sebaiknya dikatakan pada waktu dan keadaan tertentu.

2. Ragam bahasa apa yang sewajarnya dipakai dalam situasi tertentu.

3. Kapan dan bagaimana giliran berbicara dan pembicaraan selalu diterapkan.

4. Bagaimana mengatur kenyaringan suara ketika berbicara.

5. Bagaimana sikap dan gerak-gerik keika berbicara.

6. Kapan harus diam dan mengakhiri pembicaraan.

Tatacara berbahasa seseorang diengaruhi norma-norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu. Tatacara berbahasa orang Inggris berbeda dengan tatacara berbahasa orang Amerika meskipun mereka sama-sama berbahasa Inggris. Begitu juga, tatacara berbahasa orang Jawa bebeda dengan tatacara berbahasa orang Batak meskipun mereka sama-sama berbahasa Indonsia. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan yang sudah mendarah daging pada diri seseorang berpengaruh pada pola berbahasanya. Itulah sebabnya kita perlu mempelajari atau memahami norma-norma budaya sebelum atau di samping mempelajari bahasa. Sebab, tatacara berbahasa yang mengikuti norma-norma budaya akan menghasilkan kesantunan berbahasa.

2.4 Pembentukan Kesantunan Berbahasa

Sebagaimana disinggung di muka bahwa kesantunan berbahasa menggambarkan kesantunan atau kesopansantunan penuturnya. Kesantunan berbahasa (menurut Leech, 1986) pada hakikatnya harus memperhatikan empat prinsip.

Pertama, penerapan prinsip kesopanan (politeness principle) dalam berbahasa. Prinsip ini ditandai dengan memaksimalkan kesenangan/kearifan, keuntungan, rasa salut atau rasa hormat, pujian, kecocokan, dan kesimpatikan kepada orang lain' dan (bersmaan dengan itu) meminimalkan hal-hal tersebut pad diri sendiri.

Dalam berkomunikasi, di samping menerapkan prinsip kerja sama (cooperative principle) dengan keempat maksim (aturan) percakupannya, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara; juga menerapkan prinsip kesopanan dengan keenam maksimnay, yaitu (1) maksim kebijakan yang mengutamakan kearifan bahasa, (2) maksim penerimaan yang menguatamakan keuntungan untuk orang lain dan kerugian untuk diri sendiri, (3) maksim kemurahan yang mengutamakan kesalutan/rasa hormat pada orang lain dan rasa kurang hormat pada diri sendiri, (4) maksim kerendahan hati yang mengutamakan pujian pada orang lain dan rasa rendah hati pada diri sendiri, (5) maksim kecocokan yang mengutamakan kecocokan pada orang lain, dan (6) maksim kesimpatisan yang mengutakan rasa simpati pada orang lain. Dengan menerapkan prinsip kesopanan ini, orang todak lagi menggunakan ungkapan-ungkapan yag merendahkan orang lain sehingga komunikasi akan berjalan dalam situasi yang kondusif.

Kedua, penghindaran pemakaian kata tabu (taboo). Pada kebanyakan masyarakat, kata-kata yang berbau seks, kata-kata yang merujuk padaorgan-organ tubuh yang lazimditutupi pakaian, kata-kata yang merujuk pada sesuatu benda yang menjijikkan, dan kata-kata "kotor" daqn "kasar" termasuk kata-kata tabu dan tidak lazim digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari, kecuali untuk tujuan-tujuan tertentu. Contoh berikut ini merupaka kalimat yang menggunakan kata tabu karena diucapkan oelh mahasiswa kepada dosen ketika perkuliahan berlangsung.

Ketiga, sehubungan dengan penghindaran kata tabu, penggunaan eufemisme, yaitu ungkapan penghalus. Penggunaan eufemisme ini perlu diterapkan untuk menghindari kesan negatif. Yang perlu diingat adalah, eufemisme harus digunakan secara wajar, tidak berlebihan. Jika eufemisme telah menggeser pengertian suatu kata, bukan untuk memperhalus kata-kata yang tabu, maka eufemisme justru berakibat ketidaksantunan, bahkan pelecehan. Misalnya, penggunaan eufemisme dengan menutupi kenyataan yang ada, yang sering dikatakan pejabat. Kata "miskin" diganti dengan "prasejahtera", "kelaparan" diganti dengan "busung lapar", "penyelewengan" diganti "kesalahan prosedur, "ditahan" diganti "dirumahkan", dan sebagainya. Di sini terjadi kebohongan publik. Kebohongan itu termasuk bagian dari ktidaksantunan berbahasa.

Keempat, penggunaan pilihan kata honorifik, yaitu ungkapan hormat untuk berbcara dan menyapa orang lain. Penggunaan kata-kata honorifik ini tidak hanya berlaku bagi bahasa yang mengenal tingkatan (undha-usuk, Jawa) tetapi berlaku juga pada bahasa-bahasa yang tidakmengenal tingkatan. Hanya saja, bagi bahasa yang mengenal tingkatan, penentuan kata-kata honorifik sudah ditetapkan secara baku dan sistematis untuk pemakaian setiap tingkatan. Misalnya, bahasa krama inggil (laras tinggi) dalam bahasa Jawa perlu digunakan kepada orang yang tingkat sosial dan usianya lebih tinggi dari pembicara; atau kepada orang yang dihormati oleh pembicara.

Walaupun bahasa Indonesia tidak mengenal tingkatan, sebutan kata diri Engkau, Anda, Saudara, Bapak/bu mempunyai efek kesantunan yang berbeda ketika kita pakai untuk menyapa orang. Keempat kalimat berikut menunjukkan tingkat kesantunan ketika seseorang pemuda menanyakan seorang pria yang lebih tua.

Tujuan utama kesantunan berbahasa adalah memperlancar komunikasi. Oleh karena itu, oemakaian bahasa yang sengaja dibelit-belitkan, yang tidak tepat sasaran, atau yang tidak menyatakan yang sebenarnya karena enggan kepada orang yang lebih tua juga merupakan ketidaksantunan berbahasa. Kenyataan ini sering dijumpai di masyarakat Indonesia kaena terbawa oleh budaya "tidak terus terang" dan menonjolkan perasaan. Dalam batas-batas tertentu masih bisa ditoleransi jika penutur tidak bermaksud mengaburka komunikasi sehingga orang yang diajak berbicara tidak tahu apa yang dimaksudkannya.

2.5 Aspek-aspek Non-linguistik yang Mempengaruhi Kesantunan Berbahasa

Karena tatacara berbahasa selalu dikaitkan dengan penggunaan bahasa sebagai sistem komunikasi,maka selain unsur-unsur verbal, unsur-unsur nonverbal yang selalu terlibat dalam berkomunikasi pun perlu diperhatikan. Unsur-unsur nonverbal yang dimaksud adalah unsur-unsur paralinguistik, kinetik, dan proksemika. Pemerhatian unsur-unsur ini juga dalam rangka pencapaian kesantunan berbahasa.

Paralinguistik berkenaan dengan viri-ciri bunyi seperti suara berbisik, suara meninggi, suara rendah, suara sedang, suara keras, atau pengubahan intonasi yang menyertai unsur verbal dalam berbahasa. Penutur mesti memahami kapan unsur-unsur ini diterapkan ketika berbicara dengan orang lain kalau ingin dikatakan santun. Misalnya, ketika ada seorang penceramah berbicara dalam suatu seminar, kalau peserta seminar ingin berbicara dengan temannya, adalah santun dengan cara berbisik agar tidak mengganggu acara yang sedang berlangsung; tetapi kurang santun berbisik dengan temannya dalam pembicaraan yang melibatkan semua peserta karena dapat menimbulkan salah paham pada peserta lain. Suara keras yang menyertai unsur verbal penutur ketika berkomunikasi dengan atasannya bisa dianggap kurang sopan, tetapi hal itu dapat dimaklumi apabila penutur berbicara dengan orang yang kurang pendengarannya.

Gerak tangan, anggukan kepala, gelengan kepala, kedipan mata, dan ekspresi wajah seperti murung dan senyum merupakan unsur kinesik (atau ada yang menyebut gesture, gerak isyarat) yang juga perlu diperhatikan ketika berkomunikasi. Apabila penggunaannya bersamaan dengan unsur verbal dalam berkomunikasi, fungsinya sebagai pemerjelas unsur verbal. Misalnya, seorang anak diajak ibunya ke dokter, ia menjawab "Tidak, tidak mau" (verbal) sambil menggeleng-gelengkan kepala (kinesik). Akan tetapi, apabila penggunaannya terpisah dari unsur verbal, fungsinya sama dengan unsur verbal itu, yaitu menyampaikan pesan kepada penerima tanda. Misalnya, ketika bermaksud memanggil temannya, yang bersangkutan cukup menggunakan gerak tangan berulang-ulang sebagai pengganti ucapan "Hai, ayo cepat ke sini!".

Sebenarnya banyak gerak isyarat (gesture) digunakan secara terpisah dengan unsur verbal karena pertimbangan tertentu. Misalnya, karena ada makna yang dirahasiakan, cukup dengan mengerdipkan mata kepada lawan komunikasi agar orang di sekelilingnya tidak tahu maksud komunikasi tersebut. Seorang ayah membentangkan jari telunjuk secara vertikal di depan mulut agar anaknya (penerima tanda) segera diam karena sejak tadi bercanda dengan temannya saat khutbah Jumat berlangsung. Masih banyak contoh lain yang bisa diketengahkan berkaitan dengan kinetik ini. Namun, yang perlu diperhatikan dalam konteks ini adalah kinetik atau gerak isyarat (gesture) dapat dimanfaatkan untuk menciptakan kesantunan berbahasa, dan dapat pula disalahgunakan untuk menciptakan ketidaksantunan berbahasa. Ekspresi wajah yang senyum ketika menyambut tamu akan menciptakan kesantunan, tetapi sebaliknya ekspresi wajah yang murung ketika berbicara dengan tamunya dianggap kurang santun.

Unsur nonlinguistik lain yang perlu diperhatikan ketika berkomunikasi verbal adalah proksemika, yaitu sikap penjagaan jarak antara penutur dan penerima tutur (atau antara komunikator dan komunikan) sebelum atau ketika berkomunikasi berlangsung. Penerapan unsur ini akan berdampak pada kesantunan atau ketidaksantunan bwerkomunikasi. Ketika seseorang bertemu dengan teman lama, setelah beberapa lama berpisah, ia langsung berjabat erat dan bernagkulan; dilanjutkan dengan saling bercerita sambil menepuk-nepuk bahu. Tetapi, ketika ia bertemu dengan mantan dosennya, walaupun sudah lama berpisah, ia langsung menundukkan kepala sambil bwrjabat tangan dengan kedua tangannya. Si mantan dosen, sambil mengulurkan tangan kannya, tangan kirinya menepuk bahu mahasiswa yang bersangkuan.

Pada contoh kedua peristiwa itu, terlihat ada perbedaan jarak antara pemberi tanda dan penerima tanda. Apabila penjagaan jarak kedua peristiwa itu dipertikarkan,maka akan terlihat janggal, bahkan dinilai tidak sopan. Mamsih banyak contoh lain yang berkaitan dengan proksemika ini, misalnya sikap dan posisi duduk tuan rumah ketika menerima tamu, posisi duduk ketika berbicara dengan pimpinan di ruang direksi, sikap duduk seorang pimpinan ketika berbicara di hadapan anak buahnya, dan sebagainya. Yang jelas, penjagaan jarak yang sesuai antara peserta komunikasi akan memperlihatkan keserasian, keharmonisan, dan tatacara berbahasa.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa unsur paralinguistik, kinetik, dan prolsemika yang sesuai dengan situasi komunikasi deperlukan dalam penciptaan kesantunan berbahasa. Pengaturan ketiga unsur ini tidak kaku dan absolut karena berbeda setiap konteks situasi. Yang penting, bagaimana ketiga unsur bisa menciptakan situasi komunikasi yang tidak menimbulkan salah paham dan ketersinggungan kepada yang diajak berkomunikasi.

Selain ketiga unsur di atas, hal lain yang perlu diusahakan adalah penjagaan suasana atau situasi komunikasi oleh peserta yang terlibat. Mialnya, sewaktu ada acara yang memerlukan pembahasan bersama secara serius, tidaklah sopan menggunakan telepon genggam (handphone) atau menerima telepon dari luar, apalagi dengan suara keras. Kalau terpaka menggunakan atau menerima telepon, sebaiknya menjauh dari acara tersebut atau suara diperkecil.

Kecenderungan mendominasi pembicaraan, berbincang-bincang dengan teman sebelah ketika ada pertmuan dalam forum resmi, melihat ke arah lain dengan gaya melecehkan pembicara, tertawa kecil atau sinis merupakan sebagian cara yang tidak menjaga suasana komunikasi yang kondusif, tenteram, dan mengenakkan, yang bisa berakibat mengganggu tujuan komunikasi.

 BAB III

SIMPULAN DAN  SARAN

3.1 Simpulan

Secara teoretis, semua orang harus berbahasa secara santun. Setiap orang wajib menjaga etika dalam berkomunikasi agar tujuan komunikasi dapat tercapai. Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dan saat menggunakan bahasa juga harus memperhatikan kaidah-kaidah berbahasa baik kaidah linguistik maupun kaidah kesantunan agar tujuan berkomunikasi dapat tercapai. Kaidah berbahasa secara linguistik yang dimaksud antara lain digunakannya kaidah bunyi, bentuk kata, struktur kalimat, tata makna secara benar agar komunikasi berjalan lancar. Setidaknya, jika komunikasi secara tertib menggunakan kaidah linguistik, mitra tutur akan mudah memahami informasi yang disampaikan oleh penutur.

3.2 Saran

Tujuan utama kesantunan berbahasa adalah memperlancar komunikasi. Oleh karena itu, pemakaian bahasa yang sengaja dibelit-belitkan, yang tidak tepat sasaran, atau yang tidak menyatakan yang sebenarnya karena enggan kepada orang yang lebih tua juga merupakan ketidaksantunan berbahasa. Kenyataan ini sering dijumpai di masyarakat Indonesia karena terbawa oleh budaya “tidak terus terang” dan menonjolkan perasaan. Dalam batas-batas tertentu masih bisa ditoleransi jika penutur tidak bermaksud mengaburkan komunikasi sehingga orang yang diajak berbicara tidak tahu apa yang dimaksudkannya.

                                                 DAFTAR PUSTAKA


Edward, John. 1985. language, Society, anda Identity. New York: Basil Blackwell.


Goody, Esther N (Ed.). 1985. Questions and Politiness: Strategy in Social Interaction. Cambridge.


Gordon, George N. 1969. The Languages of Communication. New York: Hasting House.


Nababan, PWJ. 1986. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: PT Gramedia.


Salam, H Burhanuddin 1987. Etika Sosial: Asas Moral dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: PT Rineka Cipta.


Silzen, Peter. 1990. "Bahasa sebagai Ungkapan Perasaan". Makalah. Depok: Fakultas Sastra UI.


Wardhaugh, Renold. 1986. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Basil Blackwell.


 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes